Saat Sekolah Tak Cukup Ajarkan Pintar: Kemenag Hadirkan Kurikulum Berbasis Cinta

Saat Sekolah Tak Cukup Ajarkan Pintar: Kemenag Hadirkan Kurikulum Berbasis Cinta

Kemenag meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta-Foto : Humas Kemenag RI-

Jakarta, diswaymojokerto.id - Di tengah kekhawatiran akan meningkatnya kasus perundungan, kekerasan, hingga lunturnya empati di lingkungan pendidikan, Kementerian Agama Republik Indonesia mencoba menawarkan pendekatan baru. Bukan sekadar soal kecerdasan akademik, tetapi juga tentang merawat sisi batin peserta didik.

Melalui peluncuran Belajar Mandiri Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada 22 April 2026, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya menghadirkan pendidikan yang lebih utuh yang tidak hanya mengasah pikiran, tetapi juga menumbuhkan hati.

“Kita tidak ingin melahirkan generasi yang cerdas, tetapi kering batin. Yang kita harapkan adalah anak-anak yang tajam pikirannya, sekaligus hangat hatinya,” ujarnya seperti dikutip di Laman Kemenag RI, Minggu 26 April 2026.

BACA JUGA:Jember Supermarket Bencana, 276 Kejadian dalam Tiga Bulan, Saatnya Warga Lebih Siaga

BACA JUGA:Cegah Rem Blong di Jalur Ekstrem, Dinding Penyelamat Turunan Sendi Mojokerto Diperkuat

Menurutnya, KBC hadir sebagai respons atas berbagai persoalan yang kian terasa di dunia pendidikan: menurunnya kualitas akhlak, maraknya bullying, hingga munculnya sikap intoleran dan kebencian. Dalam konteks ini, cinta diposisikan bukan sebagai konsep abstrak, melainkan nilai yang harus hadir dalam praktik belajar sehari-hari.

Lebih jauh, Kemenag mendorong para guru, penyuluh, serta aparatur sipil negara untuk menjadi ujung tombak penyebaran nilai-nilai tersebut. Sekolah dan ruang publik diharapkan menjadi tempat tumbuhnya empati, kepedulian, serta sikap saling menghargai.


Peserta pelatihan kurikulum berbasis cinta-Foto : Humas Kemenag RI-

Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM, Muhammad Ali Ramdhani, menjelaskan bahwa program Belajar Mandiri KBC dirancang untuk memperkuat kompetensi guru, baik dari sisi pedagogik maupun kepribadian.

“Pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga pengalaman untuk menghayati dan menerapkan nilai-nilai cinta dalam proses pembelajaran,” jelasnya.

Tujuan akhirnya adalah membangun ekosistem pendidikan yang lebih harmonis dan inklusif. Lingkungan belajar diharapkan tidak hanya menghasilkan siswa yang berprestasi, tetapi juga memiliki karakter kuat toleran, menghargai perbedaan, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

BACA JUGA:Di Balik Gang Sempit Pacet, Ada Rasa yang Bikin Orang Rela Jauh-Jauh, Kisah Bakso Pecel Mbak Ony

BACA JUGA:Kolaborasi Unair dan Unhas Satukan Perspektif Sejarah, dari Singasari hingga Timur Nusantara

Menag juga menekankan bahwa produktivitas harus berjalan seiring dengan keberkahan. Baginya, capaian akademik semata tidak cukup jika tidak diiringi dengan nilai-nilai kebaikan.

Sumber: