Pemuda LDII Kota Mojokerto Digembleng Jadi Pemimpin Religius, Profesional dan Adaptif di Era Digital

Pemuda LDII Kota Mojokerto Digembleng Jadi Pemimpin Religius, Profesional dan Adaptif di Era Digital

Pemuda LDII Kota Mojokerto berfoto bersama di Klurak Eco Park Pacet Mojokerto-Foto : Istimewa-

Mojokerto, diswaymojokerto.id - LDII Kota Mojokerto mendorong lahirnya generasi pemimpin muda yang religius sekaligus profesional melalui kegiatan bertajuk Peningkatan Profesional Religius yang digelar selama dua hari, Sabtu-Minggu 24-25 Mei 2026 Kegiatan tersebut dipusatkan di GSG Al Hikmah Surodinawan dan berlanjut di Klurak Eco Park, Pacet.

Agenda yang diikuti seluruh  Pemuda LDII Daerah Kota Mojokerto itu menjadi wadah penguatan kapasitas organisasi, sekaligus pembentukan karakter kepemimpinan generasi muda di tengah tantangan sosial dan perkembangan era digital yang semakin kompleks.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan pembekalan materi kepemimpinan organisasi melalui sesi diskusi interaktif bersama Endra Mochamad Nurdin. Dalam pemaparannya, Endra menekankan pentingnya membangun pola kepemimpinan yang sehat, terbuka, dan profesional agar organisasi dapat berkembang secara berkelanjutan.

BACA JUGA:Unej Buka Empat Jalur SEMMABA 2026, Ada Golden Ticket hingga Kelas Internasional

BACA JUGA:Sapi Raksasa Asal Mojokerto Dipinang Presiden Prabowo untuk Kurban Iduladha

Ia mengulas tujuh kesalahan yang kerap terjadi dalam kepemimpinan organisasi, mulai dari sikap merasa paling benar (truth claim), lemahnya profesionalisme dengan dalih keikhlasan, hingga gaya kepemimpinan yang terlalu sentralistik atau sulit mendelegasikan tugas kepada anggota.

Menurutnya, pola kepemimpinan seperti itu sering kali membuat organisasi berjalan stagnan karena seluruh keputusan bertumpu pada satu orang, sementara kaderisasi dan pengembangan anggota kurang diperhatikan.


LDII Kota Mojokerto Gelar Acara Peningkatan Profesional Religius yang digelar selama dua hari, Sabtu-Minggu (24-25 Mei 2026)-Foto : Istimewa-

“Sering kali kegagalan atau stagnasi organisasi bukan karena kurang dana atau anggota, melainkan karena kesalahan pola pikir dan gaya kepemimpinan,” ujarnya di hadapan peserta.

Selain itu, Endra juga menyoroti pentingnya kemampuan manajemen konflik dalam organisasi. Ia menilai banyak pemimpin muda cenderung menghindari konflik atau justru mengambil keputusan secara emosional tanpa pendekatan dialog yang sehat.

Tak hanya itu, persoalan transparansi keuangan hingga keseimbangan antara aktivitas organisasi dan kehidupan pribadi juga menjadi perhatian dalam materi tersebut. Menurutnya, seorang pemimpin harus mampu menjaga integritas sekaligus tetap memperhatikan keluarga dan kesehatan diri sendiri.

BACA JUGA:DWP Mojokerto Perkuat Literasi Digital Perempuan Hadapi Deepfake dan Penipuan Online

BACA JUGA:Wabup Mojokerto Ajak Masyarakat Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis. Para peserta juga diajak membahas berbagai studi kasus yang kerap muncul dalam organisasi kepemudaan saat ini, termasuk tantangan membangun komunikasi efektif, menjaga kekompakan tim, hingga menghadapi dinamika media sosial dan perubahan karakter generasi muda.

Sumber: