Podium Bukan Garis Akhir bagi Aditya Maulana Hakim

Podium Bukan Garis Akhir bagi Aditya Maulana Hakim

Aditya Maulana Hakim mahasiswa Program Studi Administrasi Bisnis FISIP Universitas Jember -Foto : Humas Universitas Jember-

Surabaya, diswaymojokerto.id - Di tengah padatnya jadwal kuliah dan latihan, Aditya Maulana Hakim memilih untuk terus berjalan. Bagi mahasiswa Program Studi Administrasi Bisnis FISIP Universitas Jember itu, kemenangan bukan alasan untuk berhenti, melainkan pengingat agar tetap bertahan dan berkembang.

Semangat itu kembali terlihat saat Aditya tampil pada Kejuaraan Wushu Walikota Surabaya Tingkat Nasional 2026 yang digelar di Fairway Nine Mall Surabaya, 1–3 Mei 2026. Dari ajang tersebut, mahasiswa angkatan 2025 itu membawa pulang tiga medali sekaligus: Juara 1 kategori Bagua Zhang Tradisional E PA (M), Juara 2 Taiji Quan Senior PA (M), dan Juara 3 Taiji Jian Senior PA (M).

BACA JUGA:Menepis Bayang-Bayang Narkoba di Pemkot Mojokerto, Dari Kerja Bakti hingga Asa Wisata Petik Melon

BACA JUGA:Atensi KPK Soal Penerima Bantuan RTLH Ganda, Pemkot Mojokerto Lakukan Verifikasi Ulang

Prestasi itu melanjutkan konsistensinya setelah sebelumnya juga menorehkan hasil membanggakan di Kejurprov dan Surabaya Wushu Championship. Namun, di balik capaian tersebut, Aditya ternyata masih menyimpan rasa belum puas.

“Pada pertandingan ini saya sedikit kecewa, karena belum bisa memenuhi target dari pelatih, yaitu meraih tiga medali emas seperti saat Kejurprov 2025,” ujarnya.

Bagi sebagian orang, tiga medali mungkin sudah lebih dari cukup. Tetapi bagi Aditya, seorang atlet tidak hanya dituntut menang, melainkan juga mampu melampaui target dan batas dirinya sendiri.

BACA JUGA:Libur Iduladha, 1.075 Penumpang Padati Stasiun Mojokerto

BACA JUGA:Remaja di Mojokerto Ditemukan Gantung Diri di Kamar Mandi

Perjuangan itu tidak datang dengan mudah. Ia harus menghadapi lawan-lawan yang semakin kuat, terutama karena banyak atlet mulai mempersiapkan diri menuju Porprov 2027. Belum lagi kondisi pertandingan yang menurutnya cukup menguras tenaga dan fokus.


Aditya Maulana Hakim saat perolehan juara 3 Taiji Jian Senior PA (M)-Foto : Humas Universitas Jember-

“Lawan lebih berat, lapangan pertandingan juga kurang nyaman, jadwal pertandingan cukup berantakan, bahkan ada pertandingan yang selesai terlalu malam,” katanya.

Di luar arena pertandingan, Aditya juga menjalani keseharian sebagai mahasiswa. Ia harus pandai membagi waktu antara tugas kuliah dan latihan fisik yang rutin dijalani. Agar tetap bisa konsisten berlatih, ia sengaja memilih jadwal kuliah pagi hingga siang supaya memiliki waktu lebih untuk berlatih.

Kedisiplinan itu menjadi modal penting bagi Aditya untuk bertahan di dunia Wushu. Terlebih, nomor yang ia tekuni memiliki tingkat kesulitan berbeda. Pada Bagua Zhang Tradisional, gerakan lebih cepat, pendek, dan sederhana. Sementara Taiji Quan dan Taiji Jian membutuhkan rangkaian gerakan yang lebih panjang, rumit, serta memiliki risiko pengurangan poin lebih besar.

Sumber: