Mojokerto, diswaymojokerto.id- Kebiasaan berbelanja pakaian bekas layak pakai atau thrifting kian digemari muda-mudi di Mojokerto. Salah satu hobi anak muda ini mulai muncul sejak awal 2024.
Aktivitas ini tidak lagi sekadar alternatif belanja murah, tetapi berkembang menjadi bagian dari gaya hidup yang merepresentasikan kepedulian terhadap lingkungan.
Tren tersebut tumbuh di tengah naiknya harga kebutuhan pokok serta gencarnya kampanye fesyen berkelanjutan yang marak di media sosial.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, sejumlah toko pakaian preloved di Mojokerto tampak lebih ramai dari biasanya, khususnya pada akhir pekan.
Tidak hanya mengandalkan toko fisik, penjualan juga meningkat melalui platform media sosial seperti Instagram dan TikTok. Generasi muda memanfaatkan thrifting untuk memperoleh pakaian dengan harga terjangkau, sekaligus menemukan item fasion yang memiliki ciri khas dan tidak pasaran.
Salah satu toko thrifting di Mojokerto-Foto : Habib Magang-
Dari sisi konsumsi, thrifting dinilai mampu menekan ketergantungan terhadap produk fast fashion yang selama ini dikenal dengan produksi massal dan siklus tren yang cepat berganti. Dengan membeli pakaian bekas yang masih layak, konsumen turut memperpanjang masa pakai pakaian dan memaksimalkan nilai guna produk tersebut.
Aditiya (19), remaja asal Kecamatan Sooko, mengaku telah menjadikan thrifting sebagai kebiasaan sejak awal tahun lalu. Ia menilai kegiatan ini lebih menguntungkan dibanding membeli pakaian baru.
“Harganya jauh lebih murah dan modelnya beda. Kadang bisa dapat merek terkenal dengan harga di bawah Rp50 ribu. Proses nyarinya juga seru,” tuturnya, Kamis 5 Februari 2026
BACA JUGA:Hujan dan Angin Kencang Rusak 14 Rumah di Mojokerto
BACA JUGA:6 Tips Menjaga Kesehatan Saat Musim Penghujan
Pengalaman serupa juga dirasakan Rizal (20), pelajar asal Sambiroto. Menurutnya, thrifting memberikan kebebasan bagi remaja untuk membangun gaya personal tanpa harus terus membeli produk baru.
“Kalau beli baru, modelnya sering mirip. Di thrift kita bisa nemu model lama yang jarang dipakai orang lain,” ujarnya.
Tingginya minat kaum muda tersebut turut dirasakan pelaku usaha. Pemilik toko preloved Second AHN Thrift, Dimas Prayoga (27), menyebut mayoritas konsumennya kini berasal dari kalangan remaja dan dewasa muda.
“Pembeli usia 17 sampai 25 tahun paling mendominasi. Biasanya datang ramai-ramai, mencari barang unik, dan sudah paham soal padu padan pakaian,” katanya.