Ia menambahkan, penjualan tokonya mengalami kenaikan sekitar 30 persen setiap pekan dibandingkan tahun sebelumnya.
Beberapa item baju-baju di toko thirfting-Foto : Habib Magang-
Selain faktor ekonomi dan gaya berpakaian, kesadaran terhadap isu lingkungan menjadi pendorong utama popularitas thrifting. Dengan memanfaatkan kembali pakaian bekas, remaja ikut berkontribusi dalam menekan jumlah limbah tekstil yang selama ini menjadi salah satu penyebab pencemaran lingkungan global.
Fenomena ini juga sejalan dengan tren global. Survei tahun 2025 mencatat sekitar 58 persen konsumen memilih membeli pakaian secondhand, sementara lebih dari 80 persen Generasi Z menyatakan terbuka menjadikan thrifting sebagai bagian dari gaya hidup.
BACA JUGA:BPJS Kesehatan Beri Tanggapan Tentang Penonaktifan Peserta PBI
BACA JUGA:Razia Disiplin Pelajar di Mojokerto Amankan 27 Siswa yang Nongkrong di Warung Kopi Saat Jam Sekolah
Popularitasnya semakin diperkuat oleh konten thrift haul di media sosial yang menunjukkan bahwa berbusana menarik tidak harus mahal, sekaligus menanamkan kesadaran bahwa fasion berkelanjutan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana.