Mojokerto, diswaymojokerto.id – Masyarakat Kota Mojokerto dituntut cerdas dalam memperlakukan sampah rumah tangga. Antara lain dengan melakukan pemilahan sampah sejak sampah tersebut dibuang dari rumah.
Hal tersebut juga dikemukakan Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari, usai belajar tentang pengelolaan sampah perkotaan di Jepang beberapa waktu lalu.
‘’Di Jepang masyarakatnya terbiasa memilah sampah hingga sebelas jenis sampah,’’ tutur Ning Ita. Ia berharap di Kota Mojokerto, tidak sebanyak masyarakat di Jepang tapi cukup 3 atau 4 jenis sampah.
Pemilahan sampah sejak dari rumah itu, menurut Ning Ita, sapaan akrab Wali Kota Mojokerto ini, adalah sebagai langkah fundamental menjaga kebersihan dan kualitas lingkungan kota.
Ning Ita mengatakan dengan luas wilayah Kota Mojokerto yang hanya sekitar 20 kilometer persegi, upaya menjaga kebersihan harus menjadi tanggung jawab bersama. Salah satu kuncinya adalah memaksimalkan peran rumah tangga dalam pemilahan sampah.
Wali Kota Mojokerto mengikuti workshop pengelolaan sampah -Foto : Kominfo Kota Mojokerto-
“Kota Mojokerto ini kecil, hanya sekitar 20 kilometer persegi. Maka ayo kita jaga bersama. Bagaimana kita memaksimalkan peran rumah tangga dalam memilah sampah sejak dari rumah,” tutur Ning Ita. Melakukan pemilahan sampah tersebut menurut Ning Ita merupakan hal yang mudah.
“Asal kita punya niat dan membiasakan diri. Kalau sampah organik dan anorganik sudah terpilah sejak dari rumah, saya yakin tidak akan ada lagi bau sampah, dan lingkungan pun akan lebih berkualitas,” tegasnya.
BACA JUGA:Ruwat Desa Bicak Trowulan Mojokerto, Kearifan Lokal Mewujudkan Rasa Syukur
BACA JUGA:Pers Pilar Keempat Demokrasi, Turut Jaga Kondusivitas dan Stabilitas Daerah
Ning Ita menjelaskan, sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi kompos, sementara sampah anorganik dibawa ke TPS 3R untuk dipilah kembali. Sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi, lanjutnya, telah difasilitasi melalui kerja sama dengan pihak ketiga, yakni Rekosistem, yang memungkinkan sampah bernilai ekonomi untuk dikonversi menjadi manfaat finansial bagi masyarakat.
“Dengan begitu, yang masuk ke TPA hanyalah sampah anorganik yang benar-benar tidak bernilai ekonomi,” jelasnya.
Olah raga sembari memungut sampah ditanamkan sejak dini-Foto : Kominfo Kota Mojokerto-
Sementara secara infrastruktur, Ning Ita menegaskan bahwa pengelolaan sampah di Kota Mojokerto telah memadai. Saat ini tersedia 30 depo sampah, 10 Tempat Penampungan Sementara (TPS), 3 TPS 3R, serta 1 Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
“Dengan luas wilayah yang relatif kecil, fasilitas ini sebenarnya sangat mencukupi, " tambahnya. Lebih lanjut Ning Ita mengajak seluruh warga untuk mulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga dalam membangun kebiasaan memilah sampah demi masa depan Kota Mojokerto.