Jember, Diswaymojokerto.id – Empat guru besar dikukuhkan di Universitas Jember, Kami, 12 Februari 2026 di Auditorium Kampus Tegal Boto. Tentu ada momen istimewa dalam pengukuhan tersebut, yakni orasi ilmiah para guru besar.
Orasi ilmiah diawali Prof. Kiswara Agung Santoso, guru besar di Program Studi Matematika FMIPA. Dalam orasi dengan judul Otentikasi Image Berbasis Magic Square Orde ‘N’ itu dia menegaskan betapa matematika berperan besar dalam pengembangan komputasi, sehingga dunia digital bisa berkembang pesat seperti saat ini. Salah satunya melalui kajian bidang algoritma.
Guru besar asli Malang itu menyebutkan, algoritma merupakan inti dari seluruh proses komputasi. Setiap sistem cerdas, perangkat lunak berskala besar, maupun teknologi mutakhir pada dasarnya bergantung pada kualitas algoritma yang dirancang di baliknya.
Prof Dr Kiswara Agung Santoso, S.Si., M.Kom.-Dok Humas Unej for Disway Mojokerto-
Salah satu aplikasinya penggunaan magic square (persegi ajaib) orde n untuk memberikan otentifikasi sebuah citra. Saat ini dengan kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) maka umum ditemui saling mengirimkan dokumen berupa citra atau gambar semisal hasil scan ijazah dan sebagainya.
BACA JUGA:Inovasi Bioteknologi UNEJ Jawab Tantangan Infeksi Resisten Antibiotik
BACA JUGA:Tips Memilih Sayur Segar yang Berkualitas
Namun hasil scan tersebut bisa disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab semisal dengan mengubah hasil scan tadi. Dengan sistem Magic Square Orde N, maka dokumen atau citra tadi bisa diamankan, sekaligus bisa memeriksa apakah sebuah dokumen tadi otentik atau tidak.
Prof Kiswara Agung Santoso menyebutkan, keunggulan metode ini menggunakan teknik steganografi. ‘’Sehingga memungkinkan penyisipan data yang tersembunyi tanpa mengubah kualitas visual citra secara signifikan sehingga dokumen atau citra tetap aman,’’ ungkapnya.
Guru besar berikutnya adalah Prof. Khairul Anam, dengan orasi ilmiah ‘Niat, Kecerdasan Buatan, dan Teknologi Asistif: Menuju Integrasi Manusia dan Mesin’. Orasi ilmiah ini berangkat dari kegelisahannya melihat kalangan difabel yang masih kesulitan menggunakan beragam peralatan asistif atau alat bantu yang awalnya diciptakan untuk membantu mobilitas.
Prof. Ir. Khairul Anam, ST., M.T., M.Ag., Ph.D., IPU. ASEAN.Eng-Dok Humas Unej for Disway Mojokerto-
Penyebabnya semisal karena sistem antarmuka yang rumit, perintah yang kaku, serta kegagalan sistem. Semuanya sering kali justru menambah beban psikologis pengguna. ‘’Lantas muncul pertanyaan mendasar, bagaimana jika teknologi asistif tidak lagi menuntut manusia untuk beradaptasi, melainkan dirancang untuk mengikuti niat manusia itu sendiri ?’’ tuturnya.
BACA JUGA:Inovasi Bioteknologi UNEJ Jawab Tantangan Infeksi Resisten Antibiotik
BACA JUGA:Kenali Kombucha Teh Fermentasi Asal Tiongkok yang Kaya Manfaat
Pertanyaan itulah yang menginspirasi riset Prof Khairul Anam selama 10 terakhir. Pertanyaan tersebut lantas diwujudkan dalam beragam karya, diantaranya kursi roda real-time yang bisa digerakkan dengan perintah verbal yang diproses menggunakan kecerdasan buatan.
Tidak berhenti diinovasi kursi roda yang digerakkan melalui suara saja, dosen yang juga hafidz ini mengembangkan sistem kontrol berbasis niat dari sinyal otak atau electroencephalography (EEG). Pendekatan ini membuka peluang bagi pengguna dengan keterbatasan motorik yang sangat berat, yaitu niat tidak lagi diekspresikan melalui gerakan atau suara, tetapi langsung melalui aktivitas neural.
Selanjutnya Prof. Evita Soliha Hani dengan orasinya ‘Bonus Demografi atau Krisis Petani? Telaah Ekonomi Sumber Daya Manusia Dalam Ketahanan Pangan Indonesia’. Dalam orasinya dia mengingatkan bahwa Indonesia saat ini menghadapi krisis petani.
Prof. Dr. Ir. Evita Soliha Hani, M.P.-Dok Humas Unej for Disway Mojokerto-
Krisis ini tampak dari jumlah petani yang makin berkurang, jika tahun 2013 jumlahnya sebanyak 31,71 juta orang, namun di tahun 2023 berkurang menjadi 29,36 juta orang saja. Kedua, usia mayoritas petani Indonesia yang makin tua, data di tahun 2023 mayoritas usia petani kita di rentang usia 45-54 tahun dengan persentase sebesar 23,20 persen.
Disebutkan, komposisi petani yang makin sedikit dan makin tua ini tentu mempengaruhi performa pertanian Indonesia. Sebab petani yang menua cenderung menurunkan efisiensi teknis dan kapasitas produksi secara keseluruhan.
Hal itu karena fisik petani yang semakin lemah seiring dengan tambahnya usia. Sementara itu minat anak muda menjadi petani terus berkurang karena beranggapan dunia pertanian tidak memberikan kepastian pendapatan, risiko usaha yang tinggi, minimnya dukungan pemerintah dan penghargaan yang rendah.
Prof. Dr. Ir. Bambang Marhaenanto, M.Eng., IPM. ASEAN.Eng.-Dok Humas Unej for Disway Mojokerto-
Karena itu, solusinya adalah sektor pertanian harus menjadi sektor yang menarik dan mendapatkan insentif ekonomi dari pemerintah. ‘’Sehingga mampu menyerap sumber daya manusia yang produktif, terampil, serta adaptif terhadap perubahan teknologi. Petani sebagai aktor utama dalam penyedia pangan perlu diperhatikan lebih,’’ tuturnya.
BACA JUGA:Jaga Cita Rasa Tradisional, UMKM Cenil Hitam Trowulan Mulai Sentuh Pasar Digital
BACA JUGA:Rektor Harapkan Lulusan UNEJ Tetap Jadi Mahasiswa Seumur Hidup
Orasi ilmiah terakhir oleh Prof. Bambang Marhaenanto berjudul ‘Implementasi Smart Greenhouse Pada Budidaya Sayuran Hidroponik’. Guru besar yang piawai memainkan keyboards ini menawarkan sistem Smart Green House untuk pengembangan tanaman sayuran dengan pertanian hidroponik yang memanfaatkan air sebagai media tanam.
Menurut dia, implementasi teknologi Smart Greenhouse menjadi lompatan inovatif untuk mengoptimalkan potensi sistem hidroponik tersebut. Caranya melalui integrasi sensor berbasis Internet of Things (IoT), berbagai variabel kritis seperti suhu udara, kelembapan, intensitas cahaya, hingga nilai pH dan kepekatan nutrisi (EC) dapat dipantau serta dikendalikan secara otomatis.
Disebutkan, penggunaan Smart Greenhouse menjadi jawaban permasalahan pangan global, khususnya kebutuhan sayuran berkualitas tinggi. ‘’Seiring dengan pertumbuhan populasi dan kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat yang membutuhkan bahan pangan berkualitas,’’ tuturnya.