BACA JUGA:Pemkab Mojokerto Targetkan Zero Stunting, Pos PAUD Jadi Garda Terdepan
“Pemilih menjadi aktor yang menyebarkan pesan, memperkuat narasi, menularkan keyakinan, dan pada titik tertentu menjadi mesin pengaruh bagi pemilih yang lain,” tegas Prof Asfar.
Dari Teori ke Praktik
Dalam penerapannya, konsep voters engineering diterjemahkan melalui pengembangan political marketplace platform. Platform ini memungkinkan kandidat atau tim kampanye memetakan pemilih secara lebih rinci, mulai dari kategori pemilih loyal, pemilih mengambang (swing voters), hingga afiliasi politik di suatu wilayah.
Dengan pendekatan berbasis data tersebut, strategi kampanye dapat disusun lebih terarah dan efisien. Namun demikian, Prof Asfar juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi dalam politik tidak lepas dari potensi penyalahgunaan.
Ia menyoroti maraknya propaganda digital dan penyebaran informasi palsu yang dapat memengaruhi kualitas demokrasi. Karena itu, menurutnya, penguatan literasi publik menjadi hal yang tidak kalah penting.
“Yang kita pertaruhkan bukan hanya pilihan elektoral. Yang kita pertaruhkan adalah nalar dan kualitas publik, kemampuan warga membedakan antara fakta dan rekayasa, antara argumen dan manipulasi,” ujarnya.
BACA JUGA:Penurunan Harga Emas Perhiasan Penyebab Utama Deflasi Mojokerto di Bulan Maret 2026
Melalui pengenalan paradigma voters engineering, Prof Asfar berharap kajian ilmu politik dapat lebih adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus mampu memberikan kontribusi nyata dalam menjaga kualitas demokrasi di tengah derasnya arus digitalisasi.