Dari sisi gejala, hantavirus kerap sulit dikenali pada tahap awal karena menyerupai penyakit umum lainnya. Penderita biasanya mengalami demam, nyeri otot, kelelahan, mual, hingga gangguan pencernaan.
Namun dalam kondisi berat, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan paru serius atau Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Penyakit ini bisa menyebabkan pneumonia berat, Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), hingga syok yang membutuhkan perawatan intensif.
BACA JUGA:Waspada Peredaran Narkoba, Pemkot dan BNN Kota Mojokerto Ajak Warga Aktif Melapor
“Pada kasus HPS, tingkat fatalitas dapat mencapai 30 sampai 50 persen jika tidak ditangani dengan cepat,” terang Laura.
Karena itu, ia menekankan pentingnya deteksi dini dan penguatan sistem surveilans kesehatan untuk mencegah penyebaran lebih luas. Pengawasan berbasis genomik juga dinilai penting guna memahami mutasi dan pola penyebaran virus.
Laura juga mendorong penerapan pendekatan One Health, yaitu sistem yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam penanganan penyakit menular.
Menurutnya, langkah sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, memastikan sanitasi tetap baik, serta segera memeriksakan diri saat mengalami gejala mencurigakan menjadi bagian penting dalam pencegahan.
BACA JUGA:Sakit Hati dan Tekanan Ekonomi Jadi Pemicu Menantu Bacok Mertua Hingga Tewas di Puri Mojokerto
BACA JUGA:Menjelang HUT ke-733 Mojokerto, Bupati dan Forkopimda Ziarah ke Makam Tokoh Pendahulu
“Dalam era mobilitas global yang semakin tinggi, kesiapsiagaan sistem kesehatan dan deteksi dini sangat diperlukan agar kasus serupa tidak berkembang menjadi wabah yang lebih luas,” pungkasnya.