BACA JUGA:Soal Dana Haji, PKH Tegaskan Setoran Jemaah Tetap Aman
Di balik semua proses itu, Aditya mengaku tidak berjalan sendirian. Ia menyebut orang tua dan pelatih sebagai sosok paling penting dalam perjalanan kariernya sebagai atlet.
Kedua orang tuanya selalu hadir memberikan dukungan, mulai dari perhatian, fasilitas, hingga semangat saat latihan maupun kompetisi. Sementara pelatih baginya bukan sekadar pembimbing, tetapi juga motivator dan teman berdiskusi selama proses persiapan pertandingan.
Meski sudah berdiri di podium juara, Aditya belum ingin cepat puas. Sejumlah target telah menantinya, mulai dari Kejurprov Jawa Timur 2026, Kejurnas Indonesia 2026, Wushu Tradisional Asia 2026, hingga Porprov 2027.
Bagi Aditya, menjadi atlet bukan hanya soal menang dan kalah. Ada proses panjang yang membentuk mental untuk terus bertahan meski keadaan tidak selalu mudah.
BACA JUGA:Mayat Pria Tanpa Identitas Ditemukan Mengambang di Sungai Brantas Mojokerto
“Kalau bukan kamu siapa lagi yang bisa. Ingat kenapa kamu memulainya jika kamu tidak bisa menyelesaikannya. Menang kalah itu biasa, yang terpenting pengalaman yang didapat lebih berharga,” pungkasnya.
Bagi Aditya Maulana Hakim, podium juara bukanlah garis akhir. Itu hanyalah satu pijakan kecil untuk melangkah lebih jauh lagi.