Mojokerto, diswaymojokerto.id - Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, mulai mengembangkan potensi jahe dan nilam tidak sekadar sebagai hasil pertanian, tetapi menjadi bahan baku produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
Upaya itu dilakukan melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) tahun ketiga pada 2026. Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Surabaya (Ubaya) bersama Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) melatih warga memproduksi minyak atsiri dari jahe dan nilam.
BACA JUGA:Asap Rokok dan Anemia Mengintai Remaja Mojokerto, Edukasi Kesehatan Didorong Sejak Bangku Sekolah
BACA JUGA:800 Lulusan Unej Diingatkan AI Mulai Geser Pekerjaan Level Pemula
Pelatihan tersebut menjadi tahap lanjutan setelah warga sebelumnya mendapat pendampingan budidaya jahe dan nilam secara organik dengan teknik Hugelkultur. Kali ini, hasil budidaya mulai diarahkan ke tahap hilirisasi melalui pengolahan menjadi minyak atsiri.
Warga diperkenalkan langsung dengan proses penyulingan menggunakan alat destilasi boiler berkapasitas hingga 30 kilogram bahan baku dalam sekali produksi. Mereka mempelajari tahapan mulai dari menyiapkan dan mengecilkan ukuran bahan, menata tanaman di dalam tangki destilasi, mengatur proses penyulingan, hingga memisahkan dan menyimpan minyak yang dihasilkan.
BACA JUGA:120 Regu Pelajar Semarakkan Gerak Jalan Merah Putih di Kota Mojokerto
BACA JUGA:ARTOTEL Grand Prima Surabaya Tawarkan Paket Pernikahan di Wedding Yes mulai Rp 28 Jutaan
Penggunaan alat dengan kapasitas lebih besar membuka peluang produksi minyak atsiri dilakukan dalam skala yang lebih ekonomis di tingkat desa. Namun, kapasitas produksi bukan satu-satunya faktor yang menentukan nilai produk. Warga juga dibekali pemahaman mengenai kualitas bahan baku dan pengendalian proses agar minyak yang dihasilkan memiliki mutu yang baik.
Foto produksi minyak atsiri jahe dan nilam-Foto : Humas Ubaya-
Jahe dan nilam dipilih karena keduanya memiliki prospek pemanfaatan yang cukup luas. Minyak atsiri jahe, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk pangan, farmasi, kosmetik, aromaterapi, dan produk herbal. Sementara minyak nilam banyak digunakan dalam industri parfum dan kosmetik, salah satunya sebagai bahan fiksatif yang membantu mempertahankan aroma.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Dr. apt. Marisca E.G., mengatakan pelatihan tersebut diarahkan agar warga tidak berhenti pada penguasaan teori dan teknik penyulingan, tetapi mampu mengembangkan produksi secara mandiri.
BACA JUGA:120 Regu Pelajar Semarakkan Gerak Jalan Merah Putih di Kota Mojokerto
BACA JUGA:ARTOTEL Grand Prima Surabaya Tawarkan Paket Pernikahan di Wedding Yes mulai Rp 28 Jutaan
“Tim Pengabdian kepada Masyarakat berharap keterampilan yang diperoleh masyarakat dapat diterapkan secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Marisca.