Cemas, Susah Tidur, hingga Masalah Pacar, 288 Mahasiswa Unej Datang Konseling

Sabtu 12-09-2026,16:20 WIB
Reporter : Indra GM
Editor : Elsa Fifajanti

Selain menyediakan konseling, Unej juga menjalankan skrining kesehatan mental-emosional mahasiswa setiap semester. Skrining ini diintegrasikan dengan proses pengisian Kartu Rencana Studi (KRS), sehingga dapat dilakukan secara berkala dalam rangkaian aktivitas akademik mahasiswa.

Prof. Ermanto Fahamsyah menjelaskan, skrining tersebut bukan untuk memberikan label atau diagnosis kepada mahasiswa. Tujuannya adalah mendeteksi lebih awal kondisi yang mungkin membutuhkan perhatian dan dukungan.

BACA JUGA:Kemarau Panjang Berpotensi picu Karhutla, Polisi di Mojokerto Intensifkan Patroli Mitigasi di Kawasan Hijau

BACA JUGA:500 Nasi Bungkus Gratis Dibagikan di UNEJ, Mahasiswa: Kalau Bisa Setiap Hari

"Hasil skrining dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memberikan edukasi, konseling, pendampingan, maupun rujukan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa, serta dasar pertimbangan penyusunan program dan kebijakan," tutur Ermanto.

Hasil asesmen juga dapat menjadi bahan bagi Dosen Pembimbing Akademik (DPA) untuk memberikan pendampingan sesuai kebutuhan mahasiswa. Meski demikian, skrining bukan pengganti pemeriksaan atau diagnosis dari tenaga profesional kesehatan mental.

PLKD Unej juga mengembangkan pendekatan layanan yang mencakup promosi kesehatan mental, pencegahan, respons terhadap masalah, dan dukungan bagi mahasiswa difabel. Program yang disiapkan meliputi peningkatan literasi kesehatan mental, penguatan kapasitas DPA, serta pengembangan sistem peringatan dini atau Early Warning System.


Kegiatan Promotif melalui podcast bersama mental-health profesional (psikiater, psikolog, ners spesialis keperawatan jiwa) yang dilakukan secara reguler untuk mendiskusikan trend issue masalah kesehatan mental mahasiswa.-Foto : Humas Universitas Jember-

Bagi mahasiswa yang sedang menghadapi persoalan psikologis, keberadaan layanan konseling menjadi salah satu pilihan untuk memperoleh bantuan sebelum masalah berkembang lebih jauh. Konseling juga dapat menjadi ruang untuk membicarakan persoalan yang sulit disampaikan kepada orang terdekat.

Emi menekankan bahwa akses terhadap konseling perlu dipandang sebagai bagian dari dukungan selama menjalani pendidikan, bukan semata-mata layanan bagi mahasiswa yang mengalami gangguan mental.

BACA JUGA:Jawa Timur Juara Umum PEKSIMINAS XVIII 2026, Yogyakarta dan Sulawesi Tenggara Menyusul

BACA JUGA:Antrean BBM Mengular di Jember, ASN WFH dan Siswa Belajar dari Rumah

Sementara itu, Prof. Ermanto mengatakan kualitas pendidikan tinggi tidak cukup diukur dari capaian akademik. Kemampuan mahasiswa memperoleh dukungan, merasa aman, dan menjalani proses belajar dalam lingkungan yang mendukung juga menjadi bagian penting dari pengalaman pendidikan.

"Pada akhirnya, kampus yang sehat bukan hanya kampus yang mampu menghasilkan lulusan berprestasi, tetapi juga kampus yang mampu memastikan bahwa setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, berkarya, dan menyelesaikan perjalanan pendidikannya dalam lingkungan yang mendukung," pungkasnya.

 

Kategori :