tjiwi kimia ucapan idul fitri 1447 h
enero ucapan idul fitri 1447 h

Hari Raya Ketupat, dari Tradisi Lokal Menjadi Warisan Budaya

Hari Raya Ketupat, dari Tradisi Lokal Menjadi Warisan Budaya

Menampilkan tangan seseorang yang sedang menganyam janur menjadi ketupat-Foto : Habib Magang-

Mojokerto, diswaymojokerto.id - Suasana Lebaran belum sepenuhnya usai ketika masyarakat kembali disuguhi tradisi yang tak kalah bermakna, yakni Hari Raya Ketupat. Dirayakan sekitar sepekan setelah Idulfitri, momen ini menjadi penutup rangkaian perayaan yang penuh kebersamaan dan nilai spiritual di tengah masyarakat.

Tradisi ini telah mengakar kuat, khususnya di wilayah Jawa. Konon, Hari Raya Ketupat mulai dikenal sejak masa dakwah Sunan Kalijaga yang menggunakan pendekatan budaya untuk menyebarkan ajaran Islam. Ketupat dijadikan simbol sederhana yang mudah dipahami masyarakat, namun memiliki makna mendalam.

Secara filosofi, ketupat atau “kupat” diartikan sebagai “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Makna ini selaras dengan semangat Lebaran, yaitu saling memaafkan dan memperbaiki hubungan antarsesama. Tak heran jika ketupat kemudian menjadi simbol penting dalam tradisi pasca-Idulfitri.

Bentuk anyaman janur pada ketupat juga bukan tanpa arti. Kerumitan anyaman mencerminkan berbagai kesalahan manusia selama menjalani kehidupan.


Tampilan ketupat yang sudah dibelah, disajikan dengan opor ayam, sambal goreng ati, dan sayur lodeh.-Foto : Habib Magang-

Sementara itu, isi ketupat yang berwarna putih melambangkan hati yang bersih setelah memohon ampun. Filosofi ini menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk kembali suci.

Perayaan Hari Raya Ketupat biasanya diwarnai dengan kegiatan berkumpul bersama keluarga dan tetangga. Masyarakat saling berbagi hidangan, seperti ketupat yang disajikan dengan opor ayam, sambal goreng ati, hingga sayur lodeh. Kebersamaan ini mempererat tali silaturahmi yang telah terjalin sejak Lebaran.

BACA JUGA:Usai Libur Lebaran, ASN Kota Mojokerto Diminta Fokus Layanan Terbaik

BACA JUGA:Libur Lebaran 2026, Kebun Binatang Surabaya Kebanjiran 40 Ribu Pengunjung

Di beberapa daerah, tradisi ini bahkan dirayakan dengan lebih meriah melalui kirab budaya atau festival ketupat. Ribuan ketupat disusun dan diarak sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi ajang budaya, tetapi juga daya tarik wisata yang melibatkan masyarakat luas.

Meski zaman terus berkembang, eksistensi Hari Raya Ketupat tetap terjaga. Generasi muda mulai kembali mengenal dan melestarikan tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai luhur dalam tradisi ketupat masih relevan di tengah kehidupan modern.


Ilustrasi warga berbondong bondong membawa ketupat-Ilustrasi : Habib (magang)-

Pada akhirnya, Hari Raya Ketupat bukan sekadar tentang makanan khas. Lebih dari itu, tradisi ini menjadi refleksi perjalanan spiritual setelah menjalani Ramadan. Melalui ketupat, masyarakat diajak untuk terus menjaga kebersamaan, saling memaafkan, serta memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang.

Sumber: