Semeru Masih Siaga, Warga Diminta Waspada Lahar dan Awan Panas

Semeru Masih Siaga, Warga Diminta Waspada Lahar dan Awan Panas

Status Semeru sesuai informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi,-Foto : Kominfo Jatim-

Mojokerto, diswaymojokerto.id - Aktivitas Gunung Semeru masih belum bisa dianggap aman. Hingga pertengahan April 2026, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini masih berstatus Level III atau Siaga. Artinya, potensi bahaya masih ada dan masyarakat diminta untuk tetap waspada, terutama terhadap ancaman awan panas dan lahar.

Berdasarkan laporan resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas Semeru saat ini didominasi letusan kecil hingga menengah, guguran lava, serta sesekali awan panas. Meski tidak selalu terlihat karena cuaca berkabut, aktivitas tersebut tetap terjadi dan berpotensi membahayakan.

Dalam periode pemantauan terbaru, tercatat ratusan gempa aktivitas vulkanik, termasuk 578 kali gempa letusan, 85 kali gempa guguran, dan 4 kali gempa awan panas. Awan panas bahkan teramati meluncur hingga 2,5–3 kilometer ke arah tenggara.

BACA JUGA:Dari Desa Lawan Sampah, Mahasiswa Unej Ciptakan ‘Aksara Project’, Smart Bin Berbasis AI-IoT

BACA JUGA:Kabupaten Mojokerto Melejit! Juara Umum Loncat Indah Jatim 2026 di Tengah Keterbatasan

Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa potensi bahaya tidak hanya datang dari letusan langsung, tetapi juga dari material yang sudah mengendap.

“Material guguran lava dan awan panas yang sudah terendapkan di sepanjang aliran sungai berhulu di puncak Semeru berpotensi menjadi lahar. Interaksi dengan air sungai juga bisa memicu erupsi sekunder,” tulisnya dalam laporan PVMBG yang dikutip, Senin 20 April 2026

Karena itu, warga dan wisatawan diminta tidak beraktivitas di sektor tenggara, khususnya sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak. Selain itu, area dalam radius 5 kilometer dari kawah juga harus dikosongkan untuk menghindari lontaran batu pijar.

Tak hanya itu, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat juga diminta meningkatkan kewaspadaan. Saat hujan turun, material vulkanik yang menumpuk bisa berubah menjadi lahar yang mengalir deras dan berbahaya.

BACA JUGA:Rp5,8 Miliar Dana Hibah Parpol di Mojokerto, Ini Rincian dan Jadwal Pencairannya

BACA JUGA:Pro-Kontra BOSDA di Kota Mojokerto, Dinas Pendidikan Akhirnya Angkat Bicara

Untuk memantau perkembangan terkini, masyarakat bisa mengakses informasi melalui aplikasi MAGMA Indonesia atau situs resmi PVMBG. Pemerintah daerah bersama BPBD juga terus berkoordinasi dengan pos pengamatan di Gunung Sawur, Lumajang.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa hidup berdampingan dengan gunung api aktif membutuhkan kewaspadaan dan disiplin terhadap informasi resmi. Dengan mengikuti imbauan yang ada, risiko bisa diminimalkan dan keselamatan tetap terjaga.

Sumber: