Hari Raya, THR dan Penipuan Digital
Cahya Suryani-istimewa-
oleh : Cahya Suryani *)
Kurang 1 Minggu lagi, kita akan merayakan kemenangan. Suasana menjelang hari Raya mulai terasa di berbagai ruang, tidak terkecuali ruang digital. Semua bersiap menyambut momen istimewa ini dengan riuh, tujuannya sederhana mempererat silahturahmi dengan sanak saudara. Ada tradisi berbagi THR, berkirim dan berbalas pesan melalui media sosial.
Beberapa waktu lalu, sapaan kabar disampaikan secara langsung, mengetuk pintu dan mencicipi jajan hari raya. Namun kini teknologi memberikan perubahan, semua bisa berlangsung lebih cepat dan praktis. Berbekal internet dan gawai.
Momentum menjelang dan saat Hari Raya sering kali diikuti dengan meningkatnya aktivitas penipuan digital. Situasi menjadi salah satu alasan meningkatnya aktivitas digital masyarakat. Ucapan hari raya mengalir melalui Whatsapp, instagram atapun platform facebook dan platform digital lainnya.
Berbagi THR pun dapat dilakukan dengan mudah seperti mengakses mobile banking di gawai kita. Tidak lupa berbelanja kebutuhan serba baru seperti pakaian baru, membeli hampers bahkan memesan tiket mudik pun banyak dilakukan melalui platform belanja online. Semua jadi lebih mudah dan praktis.
BACA JUGA:Ancam Kerusakan Irigasi Pertanian, Warga dan Mahasiswa Hentikan Paksa Tambang Galian C di Mojokerto
BACA JUGA:Kemenag RI Lakukan Kick Off EMI Pastikan Kesiapan 6.859 Masjid Berikan Layanan Pemudik
Namun, di tengah kemudahan dan kehangatan berbalut teknologi ini, terselip celah yang kerap tidak kita sadari. Scam digital mengintai kita. Mengutip data Global Fraud Internasional, Indonesia menempati urutan angka cantik 111 negara rentan penipuan digital, dari 112 negara yang mengikuti survei, dengan skor kerentanan 6,53 dari skala 10.
Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghadapi risiko yang besar terhadap berbagai bentuk penipuan digital. Terutama yang memanfaatkan teknik rekayasa sosial seperti phishing atau manipulasi psikologis korban.
Jika diamati lebih seksama, suasana menjelang hari raya dengan euforianya merupakan kondisi yang ideal pelaku scam beraksi. Tidak hanya karena aktivitas digital tapi juga suasana hari raya yang penuh emosi positif cenderung membuat orang lebih percaya dan kurang waspada.
Ditambah lagi, banyaknya pesan berantai, tautan, dan ucapan yang beredar melalui aplikasi pesan instan yang jika kita tidak awas maka rentan terjebak dalam modus penipuan. Misalnya pesan yang mengatasnamakan kurir dengan alasan paket tertahan, penipuan yang berpura-pura menjadi anggota keluarga yang membutuhkan transfer dana mendesak, hingga tautan ucapan Lebaran yang sebenarnya berisi malware.
BACA JUGA:Pencurian Motor Guru SD di Mojokerto Digagalkan Polisi, Dua Pelaku Diamankan
BACA JUGA:Persoalan Sampah Bisa Diurai dan Dipilah Sejak dari Rumah Tangga
Dalam suasana yang seharusnya penuh kehangatan, celah kepercayaan inilah yang sering dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan digital. Saya coba mengulik dari pendekatan kognitif sosial dan perilaku digital.
Pertama, suasana ‘perayaan’cenderung meningkatkan rasa saling percaya di antara orang-orang. Penelitian mengenai kerentanan terhadap phishing menunjukkan bahwa individu yang memiliki kecenderungan kepercayaan interpersonal yang tinggi lebih rentan mempercayai pesan yang tampak kredibel atau berasal dari pihak yang dianggap familiar (Caspi dkk, 2022).
Selain itu, banyak serangan penipuan digital memanfaatkan teknik rekayasa sosial (social engineering) yang sengaja dirancang untuk memanipulasi emosi dan bias kognitif korban. Seperti kepercayaan, rasa ingin tahu, atau harapan mendapatkan keuntungan tertentu.
Pelaku juga sering menciptakan sense of urgency, misalnya dengan pesan bahwa paket harus segera dikonfirmasi atau hadiah akan hangus jika tidak segera diklaim. Sehingga korban terdorong mengambil keputusan cepat tanpa memverifikasi informasi (Bahari dkk,2020).
BACA JUGA:Bupati Jember Dorong Perubahan Nyata di Sektor Kesehatan, Khususnya Layanan Puskesmas
Di sisi lain, lingkungan media sosial membuat pesan atau tautan mudah menyebar melalui norma sosial berbagi informasi. Penelitian tentang kerentanan phishing di media sosial menunjukkan bahwa platform digital menyediakan ruang yang luas bagi pelaku untuk mengeksploitasi kerentanan perilaku pengguna dan mendorong mereka mengklik tautan berbahaya (Fraustein & Flowerday (2020).
Kombinasi antara emosi positif, meningkatnya kepercayaan sosial, serta tingginya aktivitas digital inilah yang sering dimanfaatkan pelaku scam untuk menjalankan aksinya. Penipuan digital tidak hanya mengakibatkan kerugian material, namun berdampak secara luas bagi individu dan masyarakat.
Tidak hanya kerugian finansial namun juga pencurian data pribadi, akses akun digital yang tentu saja bisa disalahgunakan untuk kejahatan lainnya. Selain itu, individu yang sudah menjadi korban akan mengalami perasaan tidak aman, keraguan untuk beraktivitas melalui media digital.
Jangka panjangnya, maraknya kasus penipuan digital berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap ekosistem digital secara keseluruhan. Tidak hanya keengganan menggunakan platform transaksi, namun juga bisa merambat pada keraguan menggunakan layanan keuangan digital, maupun komunikasi online.
BACA JUGA:Jelang Idulfitri, Polres Mojokerto Kota Gelar Latpraops Ketupat 2026
BACA JUGA:Tetap Fokus Bekerja Saat Puasa: Tips Mengatur Pola Tidur agar Tidak Lemas
Kondisi ini bisa terus berlanjut tanpa peningkatan literasi dan perlindungan konsumen yang memadai. Kalau ini yang terjadi, maka perkembangan ekonomi digital yang sedang tumbuh pesat dapat ikut terdampak oleh menurunnya rasa percaya publik.
Kita boleh merasakan euforia menjelang Hari Raya,namun kewaspadaan digital menjadi hal yang semakin penting. Masyarakat perlu membiasakan diri untuk tidak sembarangan mengklik tautan yang berasal dari pesan dengan sumber yang tidak jelas, meskipun pesan tersebut dikemas dalam bentuk ucapan selamat atau pemberitahuan hadiah.
Setiap informasi sebaiknya diverifikasi terlebih dahulu, terutama jika mengatasnamakan keluarga, teman atau relasi dekat. Abaikan permintaan transfer uang dari sumber tidak jelas. Selain itu, transaksi digital sebaiknya dilakukan melalui kanal resmi yang terpercaya.
Ingat, kode akses OTP tidak boleh dibagikan kepada siapa pun. Jangan lupa berbagi, lakukan edukasi kepada anggota keluarga terutama bagi orang tua atau kerabat yang mungkin belum familiar dengan modus penipuan digital.
BACA JUGA:Hari Kusta Se-Dunia : Kusta Penyakit Menular karena Bakteri dan Bisa Disembuhkan
BACA JUGA:Produksi Padi di Kabupaten Mojokerto Mencapai 375, 63 Ton GKP
Dengan saling mengingatkan dan meningkatkan literasi digital, kita bisa menikmati kemudahan teknologi tanpa harus terjebak dalam risiko penipuan. Pada akhirnya, Hari Raya tetaplah momentum kebersamaan yang sarat dengan nilai kepercayaan dan kehangatan antarsesama.
Namun, di era digital, kehangatan silaturahmi perlu diimbangi dengan kewaspadaan dalam berinteraksi di ruang daring. Silaturahmi boleh tanpa batas, tetapi kewaspadaan tetap harus dijaga. Kita jaga kehangatan Hari Raya tidak berubah menjadi cerita kehilangan karena penipuan digital.
*) penulis adalah Mahasiswa Doktoral Psikologi Unair/Koordinator Mafindo Mojokerto
Sumber:

