Hari Air Sedunia, Ingatkan Pentingnya Jaga Keberadaan Sumber Mata Air
Saresehan penyelamatan air mengajak pentingnya menjaga keberadaan mata air -andung - disway mojokerto-
Mojokerto, Diswaymojokerto.id – Pegiat lingkungan di Kabupaten Mojokerto mengingatkan pentingnya menjaga keberlangsungan sumber mata air. ‘’Air adalah sumber kehidupan, karena itu keberadaan sumber mata air harus dijaga dan dilsetarikan,’’ kata Sahlan Junaedy, dari Yayasan Bambu Lingkungan Lestari Mojokerto, Selasa, 24 Maret 2026.
Bahkan Yayasan Bambu Lingkungan Lestari bersama Disway Mojokerto, dalam saresehan penyelamatan mata air, 15 Maret 2026 lalu, mejelang peringatan Hari Air Sedunia pada 22 Maret 2026, berbagai komunitas pegiatan lingkungan, sepakat terus menjaga keberlangsungan mata air. ‘’Keberadaan mata air harus terus dijaga. Kita yang berada di Kawasan hulu, harus bekerja keras menjaga mata air,’’ kata Naif Santoso, dari Bumdes Belik, Kecamatan Trawas.
Hal senada disampaikan Rifqi, dari YBLL Mojokerto, yang menyebutkan, banyak mata air di wilayah hulu Kabupaten Mojokerto yang kondisinya memprihatinkan. Bahkan ada aliran anak sungai yang mengering ketika musim kemarau. ‘’kalau musim hujan seperti saat ini debit airnya besar, tapi kalau musim kemarau sungai kecil ini kering,’’ katanya sembari menyebutkan aliran air di Dusun Mligi, Desa Claket, Kecamatan Pacet.

Saresehan tentang penyelamatan mata air di Dusun Mligi, Desa Claket, Kecamatan Pacet-andung - disway mojokerto-
Dia juga menyebutkan keberadaan Air Terjun Surodadu yang mengalami perubahan debit air meski lokasinya di Kawasan dataran tinggi. ‘’Air terjun ini debit airnya bagus ketika musim hujan. Tapi pada musim kemarau airnya tidak ada sama sekali, berubah menjadi angin terjun,’’ seloroh Sahlan menyikapi kebaradaan sumber mata air di Kawasan Claket.
BACA JUGA:7 Air Terjun Ramah Keluarga di Jawa Timur, Destinasi Healing Usai Ramadan
BACA JUGA:Libur Lebaran, Polisi di Mojokerto Imbau Warga Hati - hati Saat Berkunjung ke Tempat Wisata
Sementara Agus Sugiarto, pengelola Hutan Wakaf YPM di Desa Ngembat, Kecamatan Gondang, juga menyampaikan keprihatinan tentang kebetradaan mata air. ‘’Upaya penyelamatan sumber mata air harus terus kita lakukan agar keberlangsungan sumebr mata air terus terjaga,’’ katanya.
Dia menyebutkan salah satu upaya yang dilakukan untuk menjaga mata air di lokasi hutan wakaf YPM di Desa Ngembat, Kecamatan Gondang, salah satunya dengan membuat sumur resapan. Selain itu, dia juga membuat lobang biopori sebagai salah satu langkah meresapkan air ke dalam tanah.
‘’Untuk biopori, kami dapat bantuan dari Proyek Mewlafor. Sudah kami pasang dan difungsikan sebagai resapan dan komposter alami. Dengan sumur resapan, biopori dan tanam pohon di hutan wakaf kami berusaha sebisa mungkin tetap menjaga keberadaan mata air,’’ sahutnya.

Naif, dari Bumdes Belik, Kecamatan Trawas bersama pegiat lingkungan dalam saresehan penyelamatan air di Desa Claket, Kecamatan Pacet-andung - disway mojokerto-
Setidaknya, tuturnya, dengan melakukan kegiatan tanam pohon, membuat sumur respan, biopori dan menghutankan lahan tidur, dia bisa menjaga agar tidak terjadi run off air ketika hujan. ‘’Air bisa ditahan secara alami di kawasan ini dengan berbagai kegiatan,’’ jelasnya.
BACA JUGA:Pembuatan 597 Sumur Resapan Air Proyek Mewlafor Direalisasi Usai Lebaran
BACA JUGA:Hadiah Terindah Idulfitri 2026, 15.038 Guru Pendidikan Agama Islam Lulus Sertifikasi Program PPG
Tidak hanya itu, dengan hutan wakaf pihaknya juga sudah mulai menjalankan program low carbon dan mensosialisasikan mengenai kegiatan-kegiatan penyerapan karbon melalui tanam pohon di Kawasan hutan. ‘’Kami terus berusaha mengembangkan pengelolaan hutan wakaf untuk menjaga ekosistem di sekitar lokasi hutan wakaf,’’ jelasnya.
Di sisi lain, Sahlan menyebutkan, dari Saresehan tersebut, dia ingin terus mengajak masyarakat tidak berhenti menjaga mata air. Selain dengan tanam pohon, juga menggalakkan pemeliharaan tanaman bambu dengan panen lestari.
Sumber:







