Pameran Seni Visual di Jombang, Kolaborasi Fotografi Bongkar Dialektika Tradisi
Kolaborasi apik antara dua fotografer lintas latar belakang yakni Sofan Kurniawan (Sofanka) dan Luhur Wahyu Wijaya dalam pameran cagar budaya di Jombang.-Foto : Istimewa-
Jombang, Diswaymojokerto.id – Pameran bertajuk "Cagar Budaya, Aksaragata, dan Seni Visual" resmi dibuka di gedung aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, menyuguhkan kolaborasi apik antara dua fotografer lintas latar belakang yakni Sofan Kurniawan (Sofanka) dan Luhur Wahyu Wijaya.
Pameran yang berlangsung hingga 2 April 2026 ini menjadi ruang pertemuan narasi budaya dan seni visual kontemporer, memanjakan mata melalui foto dan lukisan sekaligus menghadirkan kekayaan arkeologi dan aksara nusantara klasik.
Sofan Kurniawan, alumnus Fotografi ISI Yogyakarta yang kini aktif sebagai fotografer di Jawa Pos Radar Mojokerto, membawa karya bertajuk "Travesti: Dialektika Tubuh dan Perlawanan".

Pameran Visual di Ruang Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang-Foto : istimewa-
Travesti merupakan laki-laki yang berperan menjadi perempuan dalam kesenian Ludruk, Melalui lensanya, Sofanka membedah kompleksitas tubuh sebagai ruang ekspresi sekaligus simbol perlawanan dalam ranah sosial, secara historis, kesenian Ludruk pernah dibekukan oleh rezim Orde Baru karena dianggap kritis dan menjadi “corong” komunis, hingga akhirnya Ludruk bangkit kembali meski dalam pengawasan dan menghibur masyarakat terutama di pedesaan.
BACA JUGA:DPRD Kabupaten Mojokerto Tetapkan Perubahan Perda Pajak dan Retribusi Daerah
BACA JUGA:Strategi Pajak Rendah, Pendapatan Melimpah, PAD Jember Melonjak 36 Persen di Tahun 2025
Di sisi lain, Luhur Wahyu Wijaya menghadirkan napas tradisi lewat tema "Wayang Topeng Jatiduwur: Nafas Lama Dalam Tubuh Baru". Luhur, yang merupakan seorang ASN di Pemkab Jombang sekaligus pegiat foto budaya, berupaya mendokumentasikan bagaimana kesenian tradisional tetap relevan dan bertahan di tengah gempuran zaman.
Pameran ini tidak hanya menampilkan fotografi, tetapi juga mengajak pengunjung menelusuri jejak masa lalu melalui artefak arkeologi dan keindahan aksara nusantara yang jarang terekspos ke publik.

Pameran bertajuk ''Cagar Budaya, Aksaragata dan Seni Visual"-Foto : istimewa-
"Pameran ini sekaligus literasi bagi kami, baik secara visual maupun tekstual, banyak yang kami dapatkan dan kaji dalam pameran kali ini," ujar Saskia, salah satu pengunjung.
Pameran yang mempertemukan dialektika seni dan kekayaan cagar budaya lokal ini menjadi kesempatan langka bagi masyarakat untuk menikmati narasi kontras namun saling melengkapi dari dua fotografer lintas generasi. Pengunjung dapat menyaksikan langsung sebelum pameran berakhir pada 2 April 2026.
Sumber:

