Mojokerto, diswaymojokerto.id - Peringatan Hari Pers Nasional tidak semestinya berhenti pada seremoni tahunan dan euforia kebebasan pers. Lebih dari itu, momentum ini menjadi ruang refleksi atas peran pers sebagai kontrol sosial dan pilar demokrasi, terutama di tengah tantangan global dan kemajuan teknologi yang kian pesat.
Hal tersebut disampaikan oleh dosen Ilmu Komunikasi sekaligus akademisi Yang tengah aktif mengajar di Universitas Islam Majapahit Mojokerti, Rakhmad S. Ramadhani, S.Sos., M.Ikom, dalam keterangannya saat diwawancarai. Ia menegaskan bahwa Hari Pers harus dimaknai sebagai ajakan untuk meninjau kembali fungsi pers, tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai penjaga nalar publik.
“Perayaan Hari Pers bukan hanya tentang menyuarakan kebebasan pers, tetapi juga merefleksikan peran pers sebagai pilar demokrasi di tengah tantangan global yang semakin maju,” ujarnya.
Menurut beliau, perkembangan teknologi informasi membawa tantangan sekaligus peluang bagi dunia jurnalistik. Kemajuan digital, termasuk kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), telah mengubah pola produksi dan distribusi berita secara signifikan. Namun, kondisi tersebut justru dapat dimanfaatkan pers untuk mengembangkan jurnalisme yang lebih presisi dan berbasis data.
Ilustrasi 4 pilar demokrasi-Foto : Afthon Magang-
Ia menilai, jurnalisme presisi menjadi salah satu jawaban atas derasnya arus informasi yang kerap kali tidak terverifikasi. Dengan dukungan teknologi, wartawan dapat memperkuat akurasi, kedalaman analisis, serta kualitas pemberitaan.
Meski demikian, ia juga menekankan pentingnya adaptasi wartawan terhadap perubahan zaman. Tanpa kemampuan beradaptasi, pers berisiko tergerus oleh kecepatan teknologi yang kini mampu menyajikan informasi secara instan.
“Wartawan harus mampu beradaptasi. Kalau tidak, peran pers bisa tergeser oleh teknologi,” katanya.
BACA JUGA:Jaga Cita Rasa Tradisional, UMKM Cenil Hitam Trowulan Mulai Sentuh Pasar Digital
BACA JUGA:Jeritan UMKM Benteng Pancasila Mojokerto yang Gagal Tembus Pasar Digital
Namun ia juga menegaskan bahwa teknologi, khususnya AI, tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran jurnalis. Menurutnya, AI memang mampu menyajikan informasi dengan cepat, tetapi belum memiliki kepekaan sosial dan rasa kemanusiaan yang menjadi fondasi kerja jurnalistik.
“AI bisa cepat, tapi tidak punya jurnalisme rasa. Kepekaan, empati, dan nurani itu masih milik jurnalis,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, ia menilai bahwa tantangan pers ke depan bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga soal menjaga nilai-nilai etik dan tanggung jawab sosial. Pers dituntut tetap kritis, independen, dan berpihak pada kepentingan publik, meskipun berada dalam pusaran teknologi yang terus berkembang.
Hari Pers Nasional, lanjutnya, menjadi pengingat bahwa kebebasan pers harus berjalan seiring dengan profesionalisme dan etika jurnalistik. Dengan demikian, pers dapat terus menjalankan fungsinya sebagai pengawas kekuasaan sekaligus penopang demokrasi.