Mojokerto, diswaymojokerto.id - Awal tahun 2026 terasa berbeda. Dalam rentang waktu yang berdekatan, masyarakat Indonesia merayakan tiga hari besar keagamaan sekaligus: Tahun Baru Imlek, Rabu Abu, dan kini Ramadan.
Deretan momentum spiritual ini layak kita rayakan sebagai sebuah cerminanan wajah toleransi yang semakin matang.
Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili Pada tanggal 17 Februari 2026 yang dirayakan umat Konghucu dan masyarakat Tionghoa berlangsung meriah. Lampion merah menghiasi klenteng, doa-doa dipanjatkan, dan tradisi berkumpul bersama keluarga menjadi inti perayaan.
Di berbagai daerah, masyarakat lintas agama turut hadir menyaksikan barongsai dan menikmati suasana kebersamaan. Imlek bukan lagi sekadar perayaan etnis tertentu, Imlek kini telah menjadi bagian dari kekayaan budaya nasional.
Salah satu poster perayaan Imlek-Foto : Afthon Magang-
Tak lama berselang, umat Katolik memasuki masa refleksi melalui Rabu Abu pada tanggal 18 Februari yang menandai dimulainya masa Prapaskah. Abu yang dioleskan di dahi menjadi simbol pertobatan dan pengingat akan kefanaan manusia.
Suasana hening dan khidmat terasa di gereja-gereja. Menariknya, di sejumlah wilayah, umat agama lain turut menunjukkan empati dengan menjaga ketertiban lingkungan sekitar rumah ibadah.
Kini, bertepatan pada tanggal 19 Februari umat Islam menyambut Ramadan, bulan suci yang ditunggu umat muslim, bulan yang identik dengan puasa, tarawih, dan berbagi. Masjid-masjid kembali ramai, tradisi berbagi takjil bermunculan, dan ruang-ruang publik dipenuhi nuansa religius.
BACA JUGA:Hati-Hati Udara Berkabut. Mojokerto Diprediksi Hujan Merata, Malam Hari Hujan Disertai Petir
BACA JUGA:Kafe Bersaudara Mojokerto Titik Balik Kejayaan Kuliner Lokal Lewat Racikan Warisan
Ramadan selalu menghadirkan aktivitas sosial yang kuat, Selain menahan lapar dan dahaga, Ramadan juga dapat mengukuhkan solidaritas sosial.
Rangkaian hari besar yang berimpitan ini menjadi potret harmoni di tengah keberagaman. Indonesia, yang sejak lama dikenal sebagai negara multikultural, kembali menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi sekat, melainkan jembatan untuk saling memahami.
Momentum seperti ini penting untuk dirawat. Perayaan yang berdekatan menciptakan ruang interaksi yang lebih intens antarumat beragama. Ucapan selamat, kunjungan silaturahmi, hingga partisipasi simbolik di ruang publik memperlihatkan bahwa toleransi tidak berhenti pada wacana, melainkan hidup dalam praktik sehari-hari.
Ilustrasi kegiatan saat Ramadan-Foto : Afthon Magang (Canva)-
Di tengah dinamika global yang kerap diwarnai gesekan identitas, Indonesia memulai tahun dengan pesan damai. Imlek membawa harapan dan keberuntungan, Rabu Abu mengajarkan refleksi dan kerendahan hati, sementara Ramadan menumbuhkan kesabaran serta kepedulian sosial.