Tim Proyek Mewlafor Audiensi dengan Bupati Mojokerto, Sampaikan Progres Capaian

Rabu 25-02-2026,23:50 WIB
Reporter : Andung
Editor : Andung

 

Mojokerto, Diswaymojokerto.id – Direktur PEPDAS Kementerian Kehutanan RI, Nurul Ifitah, menyampaikan progress capaian kegiatan Proyek Mewlafor kepada Bupati Mojokerto, Muhammad Albarraa. Laporan pelaksanaan progres proyek yang didanai GEF 7 melalui UNIDO dan Kemeterian Kehutanan itu disampaikan di ruang SBK Pemkab Mojokerto, Rabu, 25 Februari 2026.

Pada kesempatan itu, Sekretaris Dirjen PEPDAS RH Kementerian Kehutanan, Zaenal Arifin, menyampaikan tentang Proyek Mewlafor (Maintaining and Enhancing Water Yield Through Land and Forest Rehabilitation) dari UNIDO (United Nations Industry Development Organizations) yang didanai GEF 7 (Global Environment Facility 7). Disebutkan, Proyek Mewlafor dilaksanakan di Kabupaten Mojokerto sejak akhir 2024 dan akan selesai sampai akhir 2027.

Dalam Proyek Mewlafor dilakukan penanaman pohon, penanaman bamboo, pembuatan sumur resapan, sampai pembuatan biopori di sekolah. Proyek tersebut dilaksanakan di 7 wilayah kecamatan di Sub DAS Brangkal, Sungai Sadar dan Porong.


Bupati Moojokerto, Muhammad Albarraa menyimak laporan Tim Mewlafor dari Kementerian Kehutanan di ruang SBK Pemkab Mojokerto-andung - disway mojokerto-

Sementara Direktur PEPDAS Kementerian Kehutanan, Nurul Iftitah menyampaikan capaian kegiatan yang dimulai pada akhir 2024 dan dilanjutkan sampai akhir 2027. ‘’Saat ini beberapa proyek sudah selesai dan sedang dalam tahap lanjutan,’’ katanya.

BACA JUGA:Aksi Bobol Toko Sembako di Mojokerto Terekam CCTV

BACA JUGA:Pemprov Jatim Berlakukan Kawasan Tanpa Rokok

Seperti diketahui, Proyek Mewlafor dilaksanakan di Kabupaten Mojokerto dengan program penanaman pohon di lahan seluas 251 hektar. Penanaman dilakukan di 7 wilayah kecamatan di Kabupaten Mojokerto, diantaranya Kecamatan Jatirejo, Kecamatan Gondang, Kecamatan Pacet, Trawas, Kutorejo, Pungging, dan Ngoro.

Selain tanam pohon, juga dilakukan pembuatan sumur resapan sebanyak 597 unit dan biopori sebanyak 8000 unit. Untuk biopori dilakukan melibatkan sekolah di wilayah kecamatan di wilayah hulu sub DAS Brantas.

Dijelaskan, untuk biopori melibatkan 85 sekolah, sedangkan pembuatan sumur resapan akan dilakukan dilaksanakan pada tahun 2026. ‘’Kami sudah melakukan persiapan dan pelaksanaannya akan dilaksanakan pada 2026,’’ tambahnya.


Tim Proyek Mewlafor dalam audiensi Proyek Mewlafor oleh Direktur PEPDAS Kementerian Kehutanan di ruang SBK Pemkab Mojokerto-andung - disway mojokerto-

Pada kesempatan itu, Nurul Iftitah menjelaskan mengenai Proyek Mewlafor, antara lain ada 3 komponen proyek utama dan hasil yang diharapkan. Disebutkan, komponen pertama adalah restorasi lahan untuk retensi air, retensi sedimen, dan peningkatan mata pencaharian.

BACA JUGA:Cegah Curanmor Selama Ramadan, Sejumlah Tempat Keramaian di Pacet Mojokerto Dipasang Banner Imbauan

BACA JUGA:Mbah Radi, Mewujudkan Bambu Panen Lestari, Hasilkan 3,8 ton Rebung per Hektar

Pada komponen ini diharapkan dapat menghindari kehilangan hutan di bagian hulu, pencegahan erosi, dan pencegahan masuknya Nitrogen dan Fosfor ke Sungai Brantas. ‘’Selain itu juga air bisa tersimpan di daerah tangkapan,’’ tuturnya.

Kemudian pada komponen ke 2, mengenai infrastruktur konservasi air berbasis alam dan penciptaan kesadaran untuk konservasi lahan dan air. Pada komponen ini, hasil yang diharapkan antara lain air bisa tersimpan di daerah tangkapan air, serta pemahaman atau kesadaran masyarakat terhadap konservasi tanah dan air bisa meningkat.

Sedangkan komponen 3, memperkuat lingkungan yang mendukung restorasi lahan berbasis masyarakat. Pada komponen ini, hasil yang diharapkan antara lain, peningkatan kapasitas para pihak untuk meningkatkan inisiatif pengelolaan air, serta penegakan kerangka regulasi yang lebih baik, serta menghindari hilangnya hutan lindung dan hutan konservasi.


Audiensi Tim Proyek Mewlafor Kementerian Kehutanan RI di ruang SBK Pemkab Mojokerto.-andung - disway mojokerto-

Nurul Iftitah menjelaskan, pada komponen pertama sudah dilakukan penanaman bibit pohon dengan sistem agroforestriuntuk memulihkan lahan terdegradasi , dan meningkatkan penyimpanan air. Sudah dilakukan penanaman bibit pohon serbaguna (Multi purpose tree species/MPTS/bibit pohon buah) yang menhasilkan hasil hutan bukan kayu (HHBK atau buah-buahan).

BACA JUGA:Misnah Lansia Lumpuh Hidup Sebatang Kara Akhirnya Mendapatkan Perhatian Bupati Mojokerto

BACA JUGA:Tepis Isu Maksimalkan Zakat untuk MBG, Menag RI : Zakat Tidak Boleh Digunakan di Luar Asnaf

Penanaman dilakukan di areal tanam seluas 251,28 hektar dengan rincian di kawasan hutan lindung seluas 198,45 hetare yang semuanya berada di area perhutanan sosial (PS). Selain itu, penanaman dilakukan di kawasan luar hutan atau lahan milik masyarakat atau hutan rakyat seluas 142,83 hektare.

Penanaman bibit pohon tersebut melibatkan 14 kelompok tani hutan dengan 719 peserta yang terdiri dari peserta perempuan sebanyak 27 orang dan laki-laki 692 orang. Bibit pohon yang ditanam sebanyak 136.582 batang bibit yang terdiri dari bibit Alpukat, Durian, Petai, pala, Kelengkeng, Duku, Sukun, Mangga, Manggis, dan Kopi.

Kategori :