Hadyu/Dam Haji di Persimpangan: Antara Tanah Haram dan Tanah Air

Selasa 21-04-2026,20:49 WIB
Editor : Elsa Fifajanti

Sebab realitasnya, ini adalah wilayah khilaf ijtihadi—bukan hitam-putih.

Mungkin Ini Bukan Tentang Memilih, Tapi Memahami

Barangkali yang lebih penting dari sekadar memilih adalah: memahami dasar pilihan kita, menyadari konsekuensi fikihnya, dan tidak mudah menyalahkan pilihan orang lain.

Dalam sejarah Islam, perbedaan seperti ini bukan hal baru. Yang berbeda hari ini adalah skalanya—dan kompleksitasnya.

Penutup: Menjaga Ibadah, Mengelola Realitas

Hadyu selalu mengajarkan satu hal sederhana: memberi, berkorban, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Apakah itu dilakukan di Tanah Haram atau melalui sistem modern, pertanyaan yang lebih dalam sebenarnya adalah: apakah kita masih menjaga ruh ibadahnya?

Karena pada akhirnya: fikih menjaga bentuk, maqāṣid menjaga tujuan,dan keduanya tidak seharusnya saling meniadakan.

Jangan sampai kita sibuk memperdebatkan “di mana disembelih”, tetapi lupa untuk benar-benar “mengorbankan” sesuatu dalam diri kita.

*) Penulis adalah Ketua Baznas Kabupaten Mojokerto

Kategori :