Krisis Fokus Menguat, Mahasiswa Unej Tawarkan 'Refocus System' Berbasis Metakognisi

Rabu 29-04-2026,16:53 WIB
Reporter : Indra GM
Editor : Elsa Fifajanti

Jember, diswaymojokerto.id - Krisis atensi di kalangan pelajar kian menguat seiring tingginya paparan distraksi digital. Notifikasi gawai, media sosial, hingga pola konsumsi konten instan disebut berkontribusi pada menurunnya kemampuan fokus dalam durasi panjang yang pada akhirnya berdampak pada kualitas belajar.

Berangkat dari persoalan tersebut, tiga mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika, FKIP Universitas Jember  (Unej) menghadirkan inovasi bertajuk Refocus System, sebuah konsep intervensi digital berbasis metakognisi.

Inovasi ini mengantarkan Vivian Muzayyadah, Rina Dwi Rahayu, dan Adin Ardia Susanti meraih juara pertama dalam International Scientific Paper Competition yang diikuti lebih dari 100 peserta lintas negara, pada 6 April 2026.

Fenomena krisis atensi sendiri bukan tanpa dasar. Sejumlah studi global menunjukkan rentang perhatian (attention span) generasi muda cenderung menurun dalam satu dekade terakhir, seiring meningkatnya intensitas penggunaan perangkat digital.

BACA JUGA:Pemkab Mojokerto Upayakan Dua Destana Dalam Tiap Tahun

BACA JUGA:Edukasi Gizi Sejak Dini, Pemkot Mojokerto Dorong Siswa Terapkan Pola Makan B2SA

Dalam konteks pembelajaran, kondisi ini memicu kesulitan mempertahankan konsentrasi, menurunnya pemahaman materi, hingga rendahnya retensi informasi.

“Kami melihat problem ini nyata di sekitar kami. Banyak pelajar tidak benar-benar kehilangan kemampuan belajar, tetapi kehilangan kendali atas fokusnya,” kata Rina.

Berbeda dari pendekatan umum yang cenderung membatasi distraksi secara eksternal seperti memblokir aplikasi atau membatasi waktu layar Refocus System justru menitikberatkan pada penguatan kesadaran kognitif pengguna.


3 mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika, FKIP Unej menghadirkan inovasi bertajuk Refocus System-Foto : Humas Universitas Jember-

Sistem ini dirancang melalui empat fitur utama: self-awareness tracking, adaptive reminders, metacognitive prompts, dan focus session. Melalui pendekatan ini, pengguna diajak mengenali pola distraksi, merefleksikan kebiasaan belajar, serta menyusun strategi fokus secara mandiri.

“Selama ini banyak solusi bersifat ‘memaksa’ dari luar. Kami mencoba masuk ke dalam cara berpikir pengguna, agar kontrol itu muncul dari diri sendiri,” ujar Rina.

Pendekatan metakognisi yakni kemampuan individu untuk memahami dan mengelola proses berpikirnya dinilai menjadi kunci dalam menjawab persoalan jangka panjang. Dengan kata lain, sistem ini tidak hanya menargetkan perubahan perilaku sesaat, tetapi juga membangun kebiasaan belajar yang berkelanjutan.

BACA JUGA:BPJS Kesehatan Mojokerto Gandeng 6 Mitra Strategis, Perluas Layanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

BACA JUGA:Tak Perlu ke Luar Kota Lagi, Calon Pekerja Migran Jember Kini Bisa Urus Semua di Satu Tempat

Kategori :