Meski demikian, tantangan implementasi tetap terbuka. Efektivitas intervensi berbasis metakognisi sangat bergantung pada konsistensi pengguna, serta integrasi dengan ekosistem pembelajaran yang lebih luas, termasuk peran guru dan lingkungan sekolah.
Di sisi lain, keberhasilan tim Unej menembus kompetisi internasional menunjukkan bahwa isu lokal—seperti distraksi digital di kalangan pelajar memiliki relevansi global jika dikemas dalam pendekatan ilmiah yang kuat.
“Kami harus memastikan ide ini tidak hanya menarik, tetapi juga logis dan aplikatif di hadapan juri dari berbagai latar belakang,” ungkap Rina terkait tantangan presentasi dalam bahasa Inggris.
Ke depan, Refocus System diproyeksikan sebagai alat bantu pembelajaran digital yang tidak hanya meningkatkan fokus, tetapi juga mendukung manajemen waktu dan kemandirian belajar.
BACA JUGA:Dari Balik Jeruji ke Dunia Usaha: Mantan Napi Mojokerto Dapat Modal Awal untuk Bangkit
BACA JUGA:Gaji Puluhan Juta di Jepang, Alumni Unej Didorong Ambil Peluang Karier Global di Rumah Sakit Tokyo
Namun, pengembangan lebih lanjut termasuk uji coba empiris dan kolaborasi lintas sektor menjadi langkah krusial sebelum implementasi luas.
“Harapannya, ini tidak berhenti sebagai konsep, tetapi bisa benar-benar digunakan dan memberi dampak nyata bagi pelajar,” pungkasnya.