Opini
Oleh: S. Alamsyah *)
Mojokerto, diswaymojokerto.id - Ada satu ilustrasi gambar yang saya lihat di Instagram. Gambar seorang mahasiswa. Berdiri di tengah demonstran. Matanya berbinar memegang papan protes.
Tetapi ada tali-tali di atas kepala dan tangannya. Tali itu terhubung ke tangan raksasa. Ada dalang tak terlihat di balik layar.
Postingan dari akun Kalcer di Instagram itu bukan sekadar ilustrasi sinis. Tetapi pembuat mungkin ingin menyampaikan potret rapuhnya gerakan perubahan saat ini.
Pesannya: Di balik yel-yel keadilan di jalanan, ada skenario matang. Ditulis oleh mereka yang tidak pernah kepanasan.
Sejarah mencatat mahasiswa sebagai agen perubahan. Mereka punya legitimasi moral. Mereka punya kekuatan mobilisasi. Langkah mereka dihargai sebagai nurani publik. Masyarakat menaruh harapan besar kepada mereka. Karena mahasiswa dianggap belum terkontaminasi politik praktis.
BACA JUGA:Pemkot Mojokerto Ajak Warga Tertib Pajak Kendaraan, RT dan RW Dilibatkan dalam Sosialisasi Opsen PKB
Tetapi ada titik rapuh di sana. Idealisme bisa dengan mudah dibajak.
Masalah dimulai saat gerakan disulut emosi. Lalu, dikendalikan oleh framing. Nalar kritis diganti sentimen kelompok. Gerakan suci bergeser menjadi komoditas politik. Siap dijual kepada penawar tertinggi.
Fenomena useful idiot bukan soal kebodohan akademik. Ini soal perilaku. Ini soal psikologi massa. Seseorang bisa jadi sangat pintar. IPK mereka bisa sempurna. Mereka bisa memimpin organisasi besar. Namun, mereka tetap menjadi pion agenda orang lain.
Mereka bergerak dengan keyakinan penuh. Mereka merasa sedang membela kebenaran. Padahal, mereka hanya mengamplifikasi kepentingan elit. Ini ironis.
BACA JUGA:Gus Barra Paparkan Transformasi ASN Mojokerto di Hadapan BKN, Siapkan Birokrasi Berbasis Talenta
BACA JUGA:Isu PHK Massal Perusahaan Komponen Otomotif di Mojokerto, Ini Penjelasan Disnaker