Mahasiswa yang menanggung risiko hukum dan fisik. Mereka menghadapi polarisasi sosial. Sementara para dalang duduk tenang. Mereka berada di ruangan ber-AC. Mereka membaca peluang dan menghitung momentum. Mereka merancang keuntungan politik pribadi. Mereka menikmati buah kekacauan tanpa berkeringat.
Bagaimana mekanisme pembajakan ini bekerja? Kemarahan sekarang bisa direkayasa. Prosesnya mirip mesin industri. Ada formula klasik yang diulang-ulang. Isu sensitif disulap menjadi framing emosional. Sistem amplifikasi digital lalu dipasang. Akhirnya, lahirlah reaksi massa yang masif. Media sosial memperparah keadaan ini.
Algoritma media sosial memberi penghargaan pada kemarahan. Di dunia digital, kemarahan lebih cepat viral. Fakta sering kali kalah cepat.
Algoritma tidak mencari kebenaran. Ia hanya mengejar perhatian publik. Masalah kompleks disederhanakan. Narasi diubah menjadi hitam-putih. Musuh dimutlakkan. Kejernihan melihat masalah dibuang ke selokan. Tujuannya agar publik bereaksi cepat. Bukan agar publik paham mendalam.
BACA JUGA:Gus Barra Minta Perangkat Desa Aktif Perbarui Data Warga dan Kawal Program Pembangunan
BACA JUGA:Buruh PT SGS Datangi Pemkab Jombang, Pemerintah Janji Kawal Penyelesaian Rencana PHK
Kita sering terjebak narasi romantis. Kita mengira gerakan adalah ledakan spontan rakyat. Rakyat yang sudah tidak tahan ditindas.
Padahal, ada kenyataan pahit. Kekacauan tidak selalu lahir spontan. Ada pola yang tertata rapi. Ada anggaran yang dialokasikan khusus. Ada target waktu yang ketat.
Ada tangan tak kasat mata di sana. Dalang bekerja melalui jaringan narasi. Mereka memakai pembuat opini dan akun robot. Mereka menggunakan tokoh pemantik di lapangan. Dalang tidak perlu terlihat di depan. Mereka cukup membuat orang lain bergerak. Mereka membuat orang lain merasa jadi pahlawan.
Kita harus membedakan dua hal: Aktivisme sehat dan aktivisme yang dibajak. Aktivisme yang dimanipulasi punya tanda klasik. Tanda ini sangat mudah dikenali. Syaratnya, kita harus objektif.
Marah sebelum cek fakta adalah gejala pertama. Membagikan konten karena cocok dengan emosi adalah gejala kedua. Mereka tidak peduli validitas data.
BACA JUGA:Jawab Pandangan Fraksi DPRD, Gus Fawait Dorong Enam Raperda Demi Perkuat Pembangunan Jember
BACA JUGA:Eceng Gondok Tak Lagi Musuh, Kini Dilirik sebagai Teknologi Pengolah Limbah Ramah Lingkungan
Sifat destruktif lainnya juga muncul. Semua yang berbeda pendapat dianggap musuh. Musuh absolut yang harus dihancurkan.
Muncul ketakutan kolektif dalam kelompok. Takut berbeda dari arus utama. Paling fatal, massa lupa bertanya. Mereka tidak bertanya pertanyaan paling mendasar. Siapa yang diuntungkan jika isu ini meledak?
Jika jawabannya kelompok elit tertentu, waspadalah. Jika jawabannya oposisi yang naik posisi tawar, waspadalah. Anda tidak sedang berjuang demi rakyat. Anda sedang dikompori demi kursi kekuasaan.