Kita harus menjaga kesucian gerakan dari kepentingan pragmatis. Mahasiswa matang tidak hanya berani turun ke jalan. Tetapi mereka berani menguji narasi sendiri. Berani berhenti sejenak. Terutama jika ingin menjadi bagian perubahan substantif. Bukan sekadar menjadi alat pihak lain.
Sebelum bergabung dalam kemarahan kolektif, refleksikan diri. Ajukan pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri.
Apakah isu ini benar terjadi? Atau ini hanya framing sepihak? Siapa aktor intelektual di balik narasi ini? Siapa yang diuntungkan secara politik atau ekonomi? Apa tuntutan spesifik dan rasional gerakan ini? Apakah gerakan ini membangun solusi nyata? Atau hanya membakar emosi tanpa arah?
BACA JUGA:Hujan dan Angin Kencang, Pohon di Pungging Mojokerto Tumbang Hingga Menutup Jalan
BACA JUGA:KAI Daop 8 Perketat Pengawasan Jalur, Antisipasi Gangguan Perjalanan Akibat Cuaca Ekstrem
Berani marah itu mudah. Melemparkan batu ke aparat bisa dilakukan siapa saja. Tetapi berani berkata "tidak" pada ketidakadilan adalah dasar. Itu harus dilakukan manusia berhati nurani.
Tetapi berpikir jernih saat semua orang emosi adalah hal yang sulit. Sama halnya dengan berpikir analitis dan kritis di tengah massa. Itu juga susah.
Jangan biarkan energi politik habis sia-sia. Jangan biarkan idealisme murni menjadi bahan bakar murah. Terutama untuk agenda tersembunyi orang lain. Jangan jadi useful idiot. Jangan merusak bangsa atas nama perbaikan. Berpikirlah.
*)Penulis adalah Pendiri Pusat Studi Pembangunan berbasis Pancasila.