Egrang Tak Boleh Hilang, Ledokombo Hidupkan Kembali Permainan Tradisional

Minggu 09-08-2026,17:43 WIB
Reporter : Indra GM
Editor : Elsa Fifajanti

Jember, diswaymojokerto.id – Di tengah semakin banyaknya permainan modern yang akrab dengan anak-anak, egrang masih berusaha mempertahankan tempatnya. Permainan tradisional yang mengandalkan keseimbangan di atas dua batang bambu itu kembali dimainkan dalam Festival Egrang ke-XIV di Komunitas Tanoker, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Sabtu 8 Agustus 2026

Sebanyak 21 penampil ambil bagian dalam festival tersebut. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai sekolah, komunitas, kelompok disabilitas, lintas generasi, lintas etnis, hingga organisasi sosial keagamaan.

BACA JUGA:Jalan Sehat Perteng Wates Kota Mojokerto, Meriah dengan Kostum Unik, dari Flora Fauna Hingga Ibu Peri

BACA JUGA:Cegah Rem Blong, Jalur Penyelamat di Turunan Sendi Mojokerto Kembali Direvitalisasi

Mereka tidak sekadar datang untuk memainkan egrang. Festival tersebut menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat sekaligus upaya menjaga permainan tradisional agar tidak hilang di tengah perubahan zaman.

Mengusung tema "Membangun Harmoni Komunitas melalui Permainan Tradisi", Festival Egrang ke-XIV memperlihatkan bahwa permainan yang dahulu lekat dengan kehidupan masyarakat itu masih bisa menjadi media untuk membangun kebersamaan.


Salah satu penampil dalam festival enggrang di Jember-Foto : Tim media Kominfo Jember-

Direktur Tanoker Ledokombo, Farha Ciciek, mengatakan keterlibatan berbagai kelompok menjadi bagian penting dari perjalanan Festival Egrang yang terus digelar hingga tahun ke-14.

"Hari ini 21 penampil yang berwarna terdiri dari sekolah, komunitas, kelompok disabilitas, lintas generasi, lintas etnis, organisasi sosial keagamaan akan berjalan bersama menampilkan hal yang terbaik karya mereka," ujar Farha.

BACA JUGA:Gagal Salip, Pengendara Motor di Mojokerto Tewas Usai Terlindas Truk

BACA JUGA:Stasiun Mojokerto Layani 30 Ribu Pelanggan pada Juli 2026, Naik 1 Persen dari Tahun Lalu

Bagi Farha, egrang bukan sekadar permainan masa lalu. Di balik kesederhanaannya, terdapat nilai keseimbangan, keberanian, kerja sama, sekaligus kegembiraan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Festival tersebut juga menjadi pengingat bahwa permainan tradisional membutuhkan ruang untuk tetap dimainkan. Tanpa keterlibatan generasi muda, permainan seperti egrang berpotensi semakin jauh dari kehidupan sehari-hari dan hanya tersisa sebagai bagian dari cerita masa lalu.


Pembukaan Festival Eggrang ke XIV di Ledokombo Jember-Foto : Tim media Kominfo Jember-

Karena itu, Festival Egrang tidak hanya mempertontonkan kemampuan berjalan di atas bambu. Berbagai kelompok yang terlibat membawa karya, cerita, serta identitas masing-masing untuk kemudian bertemu dalam satu perayaan tradisi.

Kategori :