Board of Peace dan Logika Gus Baha’

Board of Peace dan Logika Gus Baha’

S Alamsyah-istimewa-

 

Oleh: S. Alamsyah *)

Sepekan ini kalimat Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian menjadi trending. Banyak sekali yang mengecam. Karena dewan bentukan Donald Trump ini: dari sisi redaksi dan roadmap tidak menguntungkan Palestina. Pun begitu suara di Indonesia. Banyak sekali yang mengecam Prabowo. Yang memutuskan Indonesia bergabung.

Semua analisis, pendapat dan pemikiran yang mengecam memiliki kadar kebenaran. Juga logika yang masuk akal. Karena sekali lagi: bukan saja tidak menguntungkan Palestina. Malah disebut menguntungkan Israel dan Trump pribadi, sebagai Ketua BoP.

Saya mencoba membaca dari sudut pandang lain. Sama sekali tidak untuk menandingi logika yang mengecam. Karena saya harus berempati dengan pikiran dan nalar para pengkritik BoP yang membela Palestina.

Tetapi saya juga harus berempati bagaimana sekian puluh tahun, rakyat Palestina:  Termasuk anak-anak dibunuh mesin perang Israel tanpa bisa kita hentikan. Bahkan PBB pun tak bisa menghentikan.

BACA JUGA:Bupati Kromo Adinegoro Hapus Tradisi Sembah Jongkok di Mojokerto

BACA JUGA:Pemkot Mojokerto 'Belajar' Kelola Sampah ke Jepang

Artinya negara se-dunia ini tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi harus ada upaya lain.

Dalam tulisan ini saya ingin mengulas kisah sejarah Nubuwah (perjalanan yang dialami Nabi Muhammad SAW). Tanpa sedikitpun tujuan untuk menyamakan bobot dan kadarnya. Hanya menggunakan sebagai refleksi. Dengan membaca logika yang pernah disampaikan Ulama Indonesia, KH Bahauddin Nur Salim atau yang akrab disapa Gus Baha’.

Pertama: Refleksi sejarah perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian ini terjadi pada tahun ke-6 Hijriah. Antara kaum Muslimin yang diwakili langsung Rasulullah. Dengan Kafir Quraisy. Yang diwakili pemimpin tertinggi mereka: Suhail bin Amr.

Isi perjanjian merugikan kaum Muslimin. Dari sisi roadmap maupun teks redaksi. Tetapi ada yang penting dan strategis bagi Rasulullah. Yaitu: Gencatan senjata alias tidak ada perang selama 10 tahun. Dan boleh memasuki Makkah.

Kerugiannya banyak sekali. Dari segi isi: Kalaupun masuk ke Makkah, hanya boleh menetap selama 3 hari. Hanya boleh membawa senjata musafir. Bukan senjata untuk perang. Kafir Quraisy yang mau masuk Islam, harus mendapat ijin dari walinya. Sebaliknya, kaum Muhajirin Muslimin yang mau kembali ke keluarganya di Makkah dan menjadi Kafir kembali, maka mereka tidak perlu dikembalikan ke Madinah.

BACA JUGA:BPBD Jember Survei Awal Wilayah Rawan Banjir di Sumbersari, Fokus Mitigasi Berbasis Drainase

BACA JUGA:Ini Dia 8 Manfaat Olah Raga Jalan Kaki Secara Rutin BACA JUGA:Ini Dia 8 Manfaat Olah Raga Jalan Kaki Secara Rutin

Dari sisi teks redaksi perjanjian. Suhail bin Amr menolak penggunakan kalimat “Bismillahirrohmannirrohim”. Karena Kafir Quraisy tidak mengenal Ar-Rohman dan Ar-Rohim. Rasulullah setuju dan mengganti dengan kalimat: “Bismikallahumma”.

Dalam perjanjian, tidak boleh menulis gelar Rasulullah di depan nama Muhammad. Rasul pun setuju mengganti dengan menulis: Muhammad bin Abdullah.

Kerugian yang besar ini sempat diprotes oleh Sahabat Umar bin Khattab ra. Ketika itu Umar mengatakan, "Wahai Rasulullah, bukankah engkau benar-benar utusan Allah?" Nabi: "Benar." Umar: "Bukankah kita berada di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan?" Nabi: "Benar." Umar: "Lalu, mengapa kita memberikan kehinaan kepada agama kita (dengan setuju pada perjanjian ini)?"

Nabi SAW menjawab dengan jawaban yang sangat tenang namun prinsipil, "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, dan aku tidak akan mendurhakai-Nya, dan Dialah Penolongku."

BACA JUGA:Meminimalisir Perbedaan Dalam Hal Penentuan Hisab dan Rukyat Awal Bulan Hijriah, Kemenag Terbitkan PMA 1/2026

BACA JUGA:BPBD Jember Ingatkan Warga Tingkatkan Kewaspadaan, Hindari Aktivitas di Area Sungai

Meskipun isi perjanjiannya tampak merugikan, Allah SWT menurunkan Surat Al-Fath ayat 1 yang menyebut peristiwa ini sebagai "Kemenangan yang Nyata".

Karena dalam masa gencatan senjata itu: Jumlah pengikut Islam meningkat. Akibat interaksi sosial dalam situasi tanpa perang.

Perjanjian ini pula yang menjadi pintu pembuka jatuhnya Mekkah ke tangan kaum Muslimin tanpa pertumpahan darah dua tahun kemudian. Tahun ke-8 Hijriah.

Protes Umar

Reaksi Umar bin Khattab RA., terhadap Perjanjian Hudaibiyah adalah kisah yang sering diangkat Gus Baha’. Tetapi menariknya, Gus Baha’ menyebut Umar "Salah" tapi "Wajar". Mengapa? Gus Baha’ memberikan perspektif yang sangat manusiawi mengenai kejadian ini. Pertama: Logika Umar (Kebenaran Frontal). Umar mewakili logika rakyat banyak yang ingin "pokoknya benar harus menang" dan "jangan mau diinjak". Ini adalah sikap heroik yang penting dalam perjuangan.

BACA JUGA:Riset Doktor Bioteknologi Perdana UNEJ Ungkap Infeksi Ganda Virus Mosaik Tebu

BACA JUGA:Hujan Deras Picu Banjir dan Longsor di Jember, 191 KK Terdampak

Kedua: Logika Nabi (Kebenaran Strategis). Nabi melihat apa yang tidak dilihat Umar. Nabi tahu bahwa dengan "mengalah" secara tulisan, beliau sedang memenangkan masa depan.

Pelajaran untuk Kita: Gus Baha’ mengingatkan agar kita tidak buru-buru menghujat kebijakan pemimpin yang tampak "lemah" di mata publik. Bisa jadi, itu adalah strategi Mudarah. Untuk menghindari tabrakan yang lebih besar. Yang bisa menghancurkan umat.

Relevansi dengan bergabungnya Indonesia ke BoP hampir sama. Bedanya tentu bukan Nubuwah. Karena Nabi akhir zaman adalah Muhammad SAW. Tidak ada lagi yang mampu menyamai dengan bobot dan kadar yang sama.

Tetapi kritik dalam posisi Umar RA., wajar. Marah. Karena merasa harga diri bangsa Indonesia terkoyak dengan bergabung ke badan bentukan Trump. Ini adalah wujud kecintaan pada kedaulatan (mirip semangat Umar). Dan ini penting. Harus ada.

BACA JUGA:BPBD Jember Ingatkan Warga Tingkatkan Kewaspadaan, Hindari Aktivitas di Area Sungai

BACA JUGA:Kondisi Sungai Mojokerto hingga Surabaya Terus Dipantau Tim Patroli Air Terpadu

Tetapi posisi Pemerintah boleh jadi sedang "membeli waktu" atau "mencari ruang" agar Indonesia tidak tergilas oleh kebijakan superpower yang tidak terduga.

Trump dan Unaiyah

Kedua: Dalam hadits Shahih Bukhari (Nomor 6032) dan Shahih Muslim (Nomor 2591), ada seorang laki-laki yang berniat menemui Nabi. Walaupun dalam hadits disebut "seorang laki-laki", tetapi para ulama pensyarah hadits (seperti Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari) mengonfirmasi bahwa sosok tersebut adalah Uyainah bin Hishn Al-Fazari.

Uyainah adalah sosok yang disebut sebagai "Al-Ahmaq al-Mutha'" (Orang pandir yang ditaati). Prototipe orang yang "kurang sopan secara lahiriah". Sombong. Semau gue.

Dalam hadits itu dituliskan: Dari Aisyah RA., bahwa ada seorang laki-laki (Uyainah bin Hishn) meminta izin untuk menemui Nabi SAW. Ketika Nabi melihatnya, beliau berkata kepada Aisyah: "Dia adalah seburuk-buruk saudara di dalam kabilahnya" atau "Seburuk-buruk anak di dalam kabilahnya."

Namun ketika orang itu sudah duduk, Nabi SAW menyambutnya dengan wajah yang berseri-seri dan bersikap ramah kepadanya.

BACA JUGA:Selama 2025, KAI Daop 8 Surabaya Amankan 2.649 Barang Tertinggal Senilai Rp 1,62 Miliar

BACA JUGA:Dapatkan Combo Diskon PBB-P2 Bagi Wajib Pajak di Kota Mojokerto, yang Membayar Lebih Awal

Setelah orang itu pergi, Aisyah bertanya, "Wahai Rasulullah, ketika engkau melihat orang itu tadi engkau berkata begini dan begitu, namun kemudian engkau bermuka manis dan ramah kepadanya?"

Rasulullah SAW bersabda,"Wahai Aisyah, kapan engkau melihatku berkata kasar? Sesungguhnya seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan (dijauhi) oleh manusia karena takut akan keburukan (ucapan/perbuatannya)."

Dalam kajian Gus Baha’, peristiwa itu dimaknai sebagai kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial Rasulullah. Yaitu: Diplomasi "Menjaga Gengsi" Suku. Gus Baha’ juga menjelaskan perbedaan Mudarah (Basa-basi Strategis) dan Nifaq (munafik).

Sikap Nabi ini disebut Mudarah. Mengorbankan sedikit "ego duniawi" (bersikap manis), demi kemaslahatan agama atau keselamatan diri/umat. Tujuannya, untuk meredam potensi kejahatan orang tersebut (daf'ul mafasid).

BACA JUGA:Bupati Mojokerto Tinjau Rumah Warga yang Akan 'Dibedah'

BACA JUGA:134 Atlet Jatim Peraih Medali Sea Games 2025 Peroleh Bonus dari Pemprov Jatim

Jika Nabi kasar kepada Uyainah. Yang merupakan ketua suku yang keras. Uyainah bisa marah, lalu memprovokasi sukunya untuk memusuhi Nabi.

Tetapi Nabi memberikan penilaian objektif (fakta) kepada Aisyah tentang karakter Unaiyah dengan mengatakan "Dia adalah seburuk-buruk saudara di dalam kabilahnya". Untuk apa? Agar Aisyah waspada. Dan ini bukan sedang menggunjing (ghibah) tanpa tujuan.

Sehingga menurut Gus Baha’: Menghadapi orang "Toxic" tidak harus dengan konfrontasi. Gus Baha’ mengajarkan bahwa kita tidak harus selalu "jujur-jujuran" frontal di depan orang yang memiliki tabiat buruk. Apalagi jika orang itu punya kuasa atau “setengah gila”.

Melawan orang kasar dengan kekasaran hanya akan menimbulkan kerusakan lebih besar. "Mengalah" dengan bersikap sopan kepada mereka adalah strategi untuk "menyetop" kejahatan mereka agar tidak melebar.

BACA JUGA:Scientiatari Cahyaning Adhi, Mahasiswi UNEJ Masuk Program NSP di National Quemoy University Taiwan

BACA JUGA:Pemkot Mojokerto Kembali Sabet UHC Awards 2026, Jaminan Akses Layanan Kesehatan

Tetapi Gus Baha’ mengingatkan, hadits tersebut adalah kasus khusus. Jangan dijadikan dalil untuk boleh bermuka dua dalam konteks Munafik. Lain di hati lain di mulut dalam hal keimanan. Nabi tidak memuji Uyainah sebagai "Orang Saleh" atau "Wali Allah". Nabi hanya bersikap sopan dan halus.

Sekali lagi: Tidak dengan bobot dan kadar yang sama. Tetapi kita bisa mengaitkan konsep Mudarah dari Gus Baha’ dengan dinamika geopolitik dunia saat ini. Terkait langkah Presiden Prabowo yang bergabung dalam BoP bentukan Trump.

Yaitu Diplomasi sebagai "Mudarah" (Bukan Menyerah). Langkah Prabowo bergabung dengan inisiatif Trump boleh dikritik sebagai sikap "tunduk" atau mengkhianati politik bebas-aktif. Tetapi juga boleh dilihat dalam kacamata Mudarah.

Objeknya: Donald Trump sering dipersepsikan sebagai pemimpin yang transaksional dan "keras" (mirip karakter Uyainah yang Al-Ahmaq al-Mutha' atau pemimpin yang tabiatnya sulit ditebak, namun punya kuasa besar).

BACA JUGA:Cegah Penyebaran PMK, Pasar Hewan di Mojokerto Disemprot Disinfektan

BACA JUGA:Tiga Calon Lokasi Pembangunan Balai Pemasyarakatan di Mojokerto Mulai DitinjauDonald Trum

Strateginya: Bersikap ramah dan masuk ke dalam lingkaran. Bukan berarti setuju dengan seluruh kebijakan personal Trump. Melainkan untuk "meredam potensi bahaya" atau ketidakpastian ekonomi-politik yang bisa merugikan Indonesia: Jika kita berada di luar radar mereka.

Tujuannya: Menjaga kepentingan nasional (keamanan dan ekonomi) agar tetap stabil di tengah ketegangan global. Dan yang terpenting: Sebagai tahap awal: Pastikan gencatan senjata di Gaza.

Sehingga kita tidak terus membaca berita anak-anak di Gaza tertembus peluru tajam tentara Israel. Sementara kita juga tidak bisa mencegah itu.

Dan satu lagi: Kita tidak pernah tahu nasib Trump nanti. Seperti juga kita tidak tahu apakah BoP akan memancing satu sikap negara besar dan sebagian Big Member NATO yang tidak bergabung.

 

*) Penulis adalah Jurnalis. Pendiri Pusat Studi Pembangunan Berbasis Pancasila. Kandidat Doktor Hukum dan Pembangunan Universitas Airlangga.

Sumber: