Ajak Masyarakat Berdaya dan Peduli Lingkungan, Trawas Trashion Carnival 2025 Kembali Digelar

Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra memberangkatkan TTC 2025 dari Lapangan Trawas, Rabu, 27 Agustus 2025-Foto : Reza Magang-
Mojokerto, diswaymojokerto.id - Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra atau yang biasa disapa Gus Barra, secara resmi membuka acara Trawas Trashion Carnival (TTC) 2025, di lapangan Kecamatan Trawas, Mojokerto, Rabu 27 Agustus 2025.
Acara tahunan yang selalu ditunggu masyarakat Mojokerto ini hadir dengan mengusung tema “Branding Produk, Kearifan Lokal, dan Budaya Desa.”
Pembukaan acara disambut meriah masyarakat yang telah menunggu di lokasi pembukaan. Dalam sambutannya, Gus Barra menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya kegiatan yang konsisten diadakan setiap tahun ini.
“Saya atas nama pribadi dan atas nama Pemerintah Kabupaten Mojokerto mengapresiasi acara TTC (Trawas Trashion Carnival) yang diselenggarakan setiap tahunnya,” ujar Gus Barra disambut tepuk tangan meriah para hadirin.
Kedatangan Bupati Mojokerto di lokasi pemberangkatan TTC 2025 -Foto : Reza Magang-
Lebih lanjut, Gus Barra menekankan bahwa Trawas Trashion Carnival tidak sekadar perayaan yang menampilkan parade busana unik, tetapi memiliki pesan yang mendalam tentang kepedulian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat desa.
“Karena yang menarik dari carnaval ini memiliki makna yang sangat mendalam. Kata trashion berasal dari trash yang berarti sampah, dan fashion yang berarti model. Artinya melalui acara ini kita diajak melihat bagaimana sampah yang tidak berguna diubah menjadi karya seni yang bernilai tinggi. Dan tadi di setiap desa juga menampilkan branding lokal desa masing-masing,” tambahnya.
BACA JUGA:Gelombang Pertama Mutasi Jabatan di Pemkab Mojokerto, 16 Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Dilantik
Trawas Trashion Carnival tahun ini kembali menghadirkan kreasi-kreasi busana yang terbuat dari bahan daur ulang. Warga dari berbagai desa di Kecamatan Trawas memanfaatkan plastik bekas, karung, botol, hingga kertas untuk dirangkai menjadi kostum yang penuh warna dan memiliki nilai seni tinggi.
Suasana di tempat pemberangkatan TTC 2025-Foto : Reza Magang-
Setiap peserta tidak hanya menampilkan kreativitas melalui kostum, tetapi juga memperkenalkan identitas budaya dan potensi desa masing-masing. Misalnya, ada desa yang menampilkan hasil pertanian unggulan seperti kopi dan sayur-mayur, sementara desa lain membawa produk kerajinan tangan khas masyarakat setempat.
Dengan demikian, TTC tidak hanya menjadi ajang pamer busana, tetapi juga ruang promosi produk lokal desa. Pentas seni budaya juga tak ketinggalan mengisi rangkaian acara.
Beberapa kesenian tradisional seperti jaranan, hingga tari kreasi modern ditampilkan secara bergantian untuk menghibur pengunjung. Anak-anak sekolah, pemuda desa, hingga komunitas seni lokal terlibat aktif dalam memeriahkan jalannya kegiatan.
BACA JUGA:Pacet Culture Karnaval 2025, Harmoni Budaya dalam Perayaan Kemerdekaan
Sumber: