Guru Besar FMIPA Unej Kembangkan Metode Deteksi Manipulasi Gambar Berbasis 'Persegi Ajaib'
Ilustrasi Magic Square orde 3 (persegi ajaib) yang menjadi dasar metode. Setiap baris, kolom, dan diagonal memiliki jumlah yang sama (=15). Pola angka ini disisipkan secara tersembunyi ke dalam gambar.-Foto : Humas Universitas Jember-
Jember, diswaymojokerto.id - Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jember (Unej), Kiswara Agung Santoso, mengembangkan metode autentikasi gambar digital berbasis konsep matematika magic square (persegi ajaib) untuk mendeteksi pemalsuan gambar secara lebih akurat dan terperinci.
Pengembangan metode ini dilatarbelakangi maraknya manipulasi gambar di era digital yang semakin mudah dilakukan melalui berbagai aplikasi pengolah foto. Tidak hanya terjadi di media sosial, manipulasi juga kerap ditemukan pada dokumen penting seperti ijazah, sertifikat, hingga dokumen kepemilikan, yang berpotensi menimbulkan dampak serius.
Kiswara menjelaskan, metode yang dikembangkannya memanfaatkan teknik Steganografi dengan menyisipkan kode matematis ke dalam gambar tanpa mengubah tampilan visualnya. Gambar dibagi ke dalam blok-blok kecil berukuran 3×3 piksel, kemudian setiap blok disematkan pola angka magic square sebagai “sidik jari digital”.
BACA JUGA:Pemkot Mojokerto Tuntaskan Penyaluran Beras untuk 14.507 KK, Strategi Jaga Daya Beli Pasca Lebaran
BACA JUGA:Cukup Bayar Sekali Setahun, Warga Kota Mojokerto Bisa Bebas Parkir di Tepi Jalan Umum
“Konsepnya sederhana, tetapi kuat. Setiap baris, kolom, dan diagonal harus memiliki jumlah yang sama. Jika ada perubahan sekecil apa pun, pola tersebut akan rusak,” ujarnya, Sabtu 4 April 2026.
Saat dilakukan proses verifikasi, sistem akan membaca kembali pola tersembunyi tersebut. Jika ditemukan ketidaksesuaian, sistem secara otomatis menandai area yang telah dimanipulasi dengan warna putih. Dengan cara ini, pengguna tidak hanya mengetahui adanya perubahan, tetapi juga dapat melihat secara langsung lokasi manipulasi pada gambar.

Contoh hasil deteksi manipulasi gambar. Area yang diubah ditandai dengan warna putih (putih = bagian yang rusak). Metode Prof. Kiswara bekerja dengan prinsip serupa.-Foto : Humas Universitas Jember-
Berdasarkan hasil pengujian, metode ini mampu mendeteksi perubahan hingga tingkat piksel terkecil, termasuk dalam kasus manipulasi ekstrem seperti penggantian bagian wajah atau objek dalam foto. Meski demikian, kualitas gambar tetap terjaga dan perbedaan visual hampir tidak terlihat oleh mata manusia.
Dibandingkan metode autentikasi lain yang umumnya menggunakan teknik transformasi kompleks dan membutuhkan komputasi tinggi, pendekatan magic square dinilai lebih sederhana, efisien, dan mudah dikembangkan lebih lanjut.
BACA JUGA:Viral Aksi Freestyle Motor di Mojokerto, Tiga Pemuda Didatangi Polisi dan Minta Maaf
BACA JUGA:Seleksi Paskibraka Kota Mojokerto 2026 Dibuka, 215 Peserta Ikuti Tahapan Awal
Inovasi ini telah dipublikasikan dalam forum ilmiah internasional IC-MaGeStiC dan kini telah terdaftar sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Saat ini, tim peneliti tengah mengembangkan sistem berbasis MATLAB agar dapat diimplementasikan menjadi aplikasi yang lebih praktis dan dapat dimanfaatkan oleh berbagai institusi.
Kiswara menegaskan, pengembangan ini menunjukkan bahwa matematika tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga memiliki peran nyata dalam menjawab tantangan di era digital, khususnya dalam menjaga keaslian dan kepercayaan terhadap informasi visual.
Sumber:

