Dalam kondisi seperti itu, kerugian bukan semata kegagalan manajerial. Ia adalah kegagalan desain insentif di tingkat prinsipal.
Angka Rp20 triliun itu bukan bukti bahwa 558 direksi BUMN semuanya bodoh. Ia adalah cermin dari arsitektur tata kelola yang sejak awal tidak konsisten.
BACA JUGA:Truk Tabrak Truk Gandeng di Mojokerto, Dua Orang Luka-Luka
BACA JUGA:Karhutla di Mojokerto Jadi Peringatan, Pemulihan Hutan Tak Boleh Diabaikan
Kedua, dan ini yang lebih menusuk: praktik layering companies. Doni menyebut Telkom membangun serat optik lewat empat perusahaan berbeda. Masing-masing mengambil untung.
Hasil akhirnya? Biaya membengkak 150% lebih tinggi dari pesaing.
Di Pertamina, ceritanya mirip. Patra Niaga memegang produk. Perusahaan pelayaran grup mengangkutnya. Lalu menyewa pihak swasta untuk pekerjaan yang sama.
Dalam bahasa ekonomi biaya transaksi Oliver Williamson, ini adalah kegagalan hierarki. Williamson menunjukkan bahwa integrasi vertikal masuk akal ketika transaksi pasar gagal. Hierarki dipilih untuk menghemat biaya transaksi.
Tapi yang terjadi di sebagian BUMN justru sebaliknya. Hierarki tidak menurunkan biaya. Ia malah menciptakan lapisan transaksi internal yang membengkakkan anggaran.
BACA JUGA:Hampir 500 Ribu Siswa Madrasah Ikuti AN dan TKA, Dimulai Hari Ini!
BACA JUGA:Operasi Patuh Semeru 2026 di Mojokerto, Tilang Manual Berlaku, Ini Sasarannya
Setiap lapisan mengambil margin. Karena semuanya masih dalam satu grup, tidak ada mekanisme pasar yang mendisiplinkan harga.
Yang muncul bukan efisiensi integrasi. Melainkan apa yang disebut tunneling melalui transaksi pihak berelasi. Sumber daya dipindahkan antar-entitas demi kepentingan pihak tertentu, bukan untuk efisiensi kolektif.
Studi atas BUMN Indonesia menunjukkan bahwa 69% transaksi berelasi terindikasi tunneling. Jadi, ketika Doni menyebut "mereka mengambil keuntungan dari diri mereka sendiri," ia sedang mendeskripsikan gejala klasik dari penyakit lama. Penyakit yang sudah lama terdiagnosis dalam literatur, tapi sengaja disembunyikan di ruang publik.
Ketiga, mengapa praktik ini bisa bertahan lama? Di sinilah konsep X-inefficiency dari Leibenstein menjadi relevan.
BACA JUGA:UNEJ Sabet Terbaik 1 Nasional Abdidaya Ormawa 2026, Borong Tujuh Penghargaan