Kritik juga tetap layak diajukan. Pengungkapan ini muncul dari institusi yang justru kini memegang kendali besar atas BUMN. Artinya, sebagian masalah yang dibeberkan adalah warisan yang kini menjadi tanggung jawabnya sendiri.
Dalam kerangka principal-agent, pengawasan yang efektif mensyaratkan dua hal. Bukan hanya keterbukaan agen, tetapi juga kemampuan prinsipal—dalam hal ini publik dan parlemen—untuk menindaklanjuti informasi yang dibuka.
BACA JUGA:Kolaborasi KAUJE dan Unej Turun Tangan Hadapi Kekeringan di 5 Kabupaten di Jatim
BACA JUGA:Catatan Sapi Tak Lagi Bergantung pada Kertas, Peternak Lumajang Kenali DairyTrack
Blak-blakan bukanlah prestasi akhir. Ia adalah pintu masuk menuju perbaikan.
Namun untuk hari ini, apresiasi tetap pantas diberikan. Di tengah budaya organisasi yang kerap memilih aman dan diam, seorang Doni Oskaria memilih bicara terus terang di depan publik. Ia bahkan menyebut nama Telkom dan Pertamina sebagai contoh nyata.
Itu bukan langkah populer. Itu langkah berani.
Dalam tradisi akademik sekalipun, keberanian mengakui masalah adalah prasyarat pertama bagi solusi yang berarti. Jempol untuk blak-blakan Doni.
Sekarang, tugas kita semua memastikan blak-blakan itu berbuah nyata. Bukan sekadar menjadi berita sehari.
*) Penulis adalah jurnalis, pendiri Pusat Studi Pembangunan berbasis Pancasila, mahasiswa doktoral prodi Hukum dan Pembangunan, SPS Universitas Airlangga.