Kok Haji Isam?

Kok Haji Isam?

S Alamsyah-Foto : dok Pribadi-

Oleh: S. Alamsyah *)

Mojokerto, diswaymojokerto.id - Sepekan ini linimasa media sosial dibanjiri topik seputar anomali saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Lalu pembelian saham BYAN oleh Haji Isam dengan harga diskon gede-gedean. Disusul teguran keras dari lembaga global seperti MSCI. Hingga dugaan adanya tekanan fundamental dari regulator terhadap pengusaha tertentu. 

Lalu, para kritikus mengangkat frasa ‘State Capture’. Alias adanya swasta atau kelompok kepentingan yang memengaruhi kebijakan. Akibat hubungan dekat penguasa dan pengusaha. Hingga melahirkan privilege tertentu.

Minggu ini, --dalam konteks tersebut-- yang paling menjadi tertuduh adalah pengusaha nasional Haji Isam.

Tetapi saya ingin adil sejak dalam pikiran. Jujur melihat fenomena. Dan bicara obyektif. Bagi saya, mengarahkan telunjuk pada satu aktor adalah sebuah rabun jauh politik. 

Mari kita jujur pada realitas yang lebih pahit: Haji Isam bukanlah penyakitnya. Ia –dan tentu pengusaha besar lainnya-- adalah produk yang paling rasional dari sebuah sistem politik yang dirancang oleh aktor-aktor yang mengubah total Konstitusi Indonesia di tahun 1999 hingga 2002 silam. 

BACA JUGA:Polisi Ringkus Tiga Pembobol Dua Sekolah di Mojokerto, Laptop hingga Proyektor Jadi Sasaran

BACA JUGA:Momen Hari Santri, Ketum PBNU Gus Kikin Ajak Pengurus Perkuat Tradisi Pesantren

Sejak tahun 2004 –pilpres langsung pertama: Indonesia total meninggalkan Sistem Bernegara yang dirumuskan para pendiri bangsa. Sistem yang belum pernah secara murni diterapkan di era Orde Lama. Bahkan diselewengkan di era Orde Baru. 

Pilpres langsung one man one vote yang “lebih langsung” dari Amerika Serikat itu memaksa kandidat kampanye keliling Indonesia. 

Negara kepulauan yang dipisahkan laut --yang jarak bentang dari Sabang sampai Merauke sama dengan jarak dari London ke Almaty Kazakhstan. 

Sedangkan jarak bentang dari Miangas sampai Pulau Rote sama dengan jarak bentang dari Moskow ke Istambul. 

Lebih dari 800 ribu TPS harus dijaga oleh tim kandidat calon presiden dan wakil presiden, agar tak kehilangan suara. 

Apa artinya? Sesungguhnya kita sedang menciptakan mesin "bakar uang" raksasa. Sekaligus menciptakan polarisasi sosial dari rekrutmen ratusan ribu atau jutaan tim relawan –yang kebanyakan tidak gratis dan menanti balas jasa. 

Sumber: