Ucapan HUT ke 80 kemerdekaan RI - Tjiwi Kmia

Harga Ubi di Pacet Merangkak Naik Dua Kali Lipat, Pedagang Terpaksa Kurangi Stok

Harga Ubi di Pacet  Merangkak Naik Dua Kali Lipat, Pedagang Terpaksa Kurangi Stok

Warung Misno yang berjualan ubi dan oleh oleh khas pacet-Foto : Rifky Magang-

Mojokerto, Diswaymojokerto.id – Harga ubi di kawasan Pacet, Kabupaten Mojokerto, mengalami lonjakan signifikan dalam dua bulan terakhir. Komoditas yang biasa dijual dengan harga Rp 4.000 per kilogram di tingkat petani kini naik menjadi Rp8.0 00 per kilogram. Kenaikan ini membuat pedagang hingga pelaku usaha wisata kuliner di Pacet harus mengurangi stok dagangan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kenaikan harga dipicu oleh pergeseran pola tanam petani. Banyak petani di Pacet lebih memilih menanam bawang karena dianggap lebih menguntungkan.

Pada saat itu, harga bawang sempat menembus Rp20.000 per kilogram. Dengan masa tanam yang hampir sama, bawang dinilai memberikan hasil ekonomi lebih besar dibanding ubi.

Misno (55), salah satu pedagang ubi di kawasan wisata Pacet, mengaku merasakan langsung dampak kenaikan harga tersebut. Biasanya, ia bisa menyetok ubi hingga beberapa karung untuk kebutuhan dagang sehari-hari. Namun kini, jumlah stoknya terbatas.

“Biasanya saya bisa stok banyak sampai berkarung-karung. Tapi awal Agustus kemarin bisa dapat satu karung saja sudah alhamdulillah,” kata Misno.


Stok ubi yang menipis akibat harga yang naik-Foto : Rifky Magang-

Di kawasan wisata Pacet, ubi menjadi salah satu komoditas yang cukup diminati wisatawan. Meski begitu, berbeda dengan daerah lain, para pedagang di Pacet umumnya menjual ubi dalam bentuk mentah.

Ubi hanya dicuci bersih sebelum dijual, sementara pengolahan biasanya dilakukan di rumah masing-masing pembeli. Adapun olahan yang populer di masyarakat sekitar adalah keripik ubi dan ubi oven.

Kenaikan harga ubi membuat sejumlah pedagang harus memutar otak agar tetap bisa memenuhi permintaan konsumen. Sebagian bahkan mengurangi jumlah stok untuk menghindari kerugian. Beberapa warung yang biasanya menyediakan ubi dalam jumlah besar kini hanya mampu menjual dalam skala kecil.

BACA JUGA:Surati Presiden, LaNyalla Sampaikan Kegelisahan Pelaku Olahraga

BACA JUGA:Pemotor Asal Jombang Tewas di Jalan Nasional Trowulan, Diduga Korban Tabrak Lari

Selain itu, wisatawan yang datang ke Pacet pun mulai merasakan perbedaan harga. Ubi yang dulunya menjadi buah tangan murah meriah, kini harus dibeli dengan harga dua kali lipat. Kendati begitu, sebagian besar pembeli masih mencari ubi karena dianggap khas Pacet dan cocok dijadikan oleh-oleh.

Para pedagang memperkirakan harga ubi akan kembali stabil dalam satu hingga dua bulan ke depan. Pasalnya, masa tanam bawang di wilayah Pacet mulai memasuki masa panen. Dengan demikian, petani diperkirakan akan kembali menanam ubi, sehingga pasokan di pasaran meningkat dan harga dapat normal kembali.


Petani di Pacet Mojokerto lebih memilih menanam bawang daripada ubi-Foto : Rifky Magang-

Sumber:

b