Menelusuri Candi Gentong, Warisan Majapahit yang Hampir Terlupakan

Bagian depan Candi Gentong I-Foto : Yasmin Magang-
Mojokerto, diswaymojokerto.id - Di tengah hamparan sawah Desa Jambumente, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, berdiri sisa-sisa kejayaan Majapahit yang masih dapat disaksikan hingga saat ini, bernama Candi Gentong. Sekilas seperti reruntuhan yang tak beraturan, Candi Gentong sejatinya menyimpan jejak kehidupan Majapahit di masa lampau, menjadikannya sebagai salah satu situs bersejarah di Trowulan.
Berdasarkan catatan sejarah, Candi Gentong ditemukan pada tahun 1889, meski tanpa keterangan jelas mengenai bentuk aslinya. Di tahun 1907, situs ini hanya berupa gundukan tanah yang ditumbuhi ilalang. Baru kemudian dilakukan pemugaran oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur pada tahun 1995/1996, 1998/1999 hingga 2004.
Situs ini terbagi menjadi dua bagian, yakni Candi Gentong I di sebelah selatan berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 23m² yang terdiri dari tiga struktur berjajar menghadap ke arah barat. Struktur pertama terletak di tengah yang dikelilingi oleh struktur ke dua hingga membentuk semacam lorong yang melebar bagian atasnya. Struktur ke tiga terletak di paling luar mengelilingi struktur ke dua dengan terdapat beberapa bilik kecil berderet.
Candi Gentong tampak dekat-Foto : Yasmin Magang-
Sementara Candi Gentong II di sisi utara dengan luas 18,5m², terdiri dari satu bangunan utama yang dikelilingi tujuh bangunan kecil menunjuk setiap penjuru mata angin atau seperti Surya Majapahit. Seluruh struktur candi disusun dari batu bata merah yang dipasang menggunakan sistem gosok.
Bangunan ini dinamai Candi ‘Gentong’ karena saat pertama kali ditemukan oleh masyarakat, gundukan ini berbentuk seperti gentong dengan lubang besar di tengahnya, ditambah banyak ditemukan fragmen gentong di lokasi tersebut. Masyarakat sekitar kemudian percaya bahwa Candi Gentong dulunya merupakan tempat pemandian jenazah.
BACA JUGA:Semalam Setelah Kebakaran, Pasar Pandaan Dipenuhi Puing, Sebagian Pedagang Tetap Berjualan
BACA JUGA:KLH Temukan Dugaan Pencemaran Sungai Brantas oleh 4 Perusahaan, 2 Diantaranya di Mojokerto
Roki’in, juru pelihara Candi Gentong, menjelaskan bahwa candi ini masih berkaitan dengan Candi Brahu yang lokasinya tidak terpaut jauh. Kalau Candi Gentong dipercaya sebagai tempat pemandian jenazah, maka Candi Brahu yang berasal dari kata ‘awu’ atau ‘abu’ merupakan lokasi pembakaran jenazah.
Candi Gentong II tampak dekat-Foto : Yasmin Magang-
Namun, hasil ekskavasi menunjukkan fakta yang berbeda. Di tengah Candi Gentong I, ditemukan beberapa stupika atau alat ibadah untuk umat Budha yang bertuliskan mantra atau doa-doa. Temuan ini kemudian menguatkan dugaan bahwa Candi Gentong dulunya difungsikan sebagai tempat sembahyang.
Meski begitu, kondisi bangunan yang tampak saat ini masih jauh dari bentuk aslinya. Saat ditemukan, tidak lebih dari 60 hingga 70 persen struktur candi yang masih tersisa, sehingga memerlukan kajian yang lebih mendalam jika ingin merekonstruksi wujud aslinya.
“Dulu ini tidak bisa dipugar karena ada bangunan atau pondasi-pondasi yang tidak ada perwakilan atau contoh bentuk untuk referensinya,” ujar Roki’in.
Halaman depan Candi Gentong-Foto : Yasmin Magang-
Sumber: