Buku karya Yoga Pratama mengulas pentingnya pola pikir positif dalam membangun sikap optimistis dan menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan.-Foto : Sandra/Magang-
Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan tersebut sebenarnya terus digunakan. Saat berdiskusi dengan teman, menyampaikan pendapat dalam organisasi, melakukan negosiasi, berbicara dengan keluarga, hingga berkomunikasi di tempat kerja, seseorang selalu berhadapan dengan karakter yang berbeda.
Karena itu, komunikasi yang efektif bukan hanya soal kata-kata.
Nada suara, ekspresi wajah, kontak mata, bahkan bahasa tubuh ikut membentuk kesan ketika seseorang menyampaikan pesan. Kalimat yang sama bisa menghasilkan respons berbeda ketika disampaikan dengan intonasi atau ekspresi yang berbeda.
Bayangkan seseorang mengatakan, “Saya mengerti.”
BACA JUGA:Mahasiswa Unej Bawa Pulang Tiga Penghargaan dari Ajang Internasional Singapura-Malaysia
BACA JUGA:Operasi Gabungan di Mojokerto Jaring Puluhan Kendaraan
Kalimat itu bisa terdengar tulus ketika disampaikan dengan perhatian dan kontak mata. Namun, kalimat yang sama dapat terasa seperti bentuk ketidakpedulian jika diucapkan sambil melihat ponsel atau memalingkan wajah.
Artinya, dalam komunikasi, apa yang dikatakan dan bagaimana cara mengatakannya merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Buku Trik Memikat dan Mempengaruhi Lawan Bicara yang dikategorikan dalam bidang psikologi tersebut mencoba membawa pembaca memahami sisi itu. Katalog UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan mencantumkan sejumlah subjek buku, antara lain pengaruh, pribadi, dan persuasi psikologi.
Sejumlah tips komunikasi dalam buku ini mencakup cara mengingat nama seseorang serta menghindari perdebatan yang dapat menghambat hubungan dengan lawan bicara-Foto : Sandra/Magang-
Pembahasan mengenai persuasi menjadi menarik karena kemampuan memengaruhi sebenarnya hadir dalam banyak situasi. Seorang anak membujuk orang tuanya, mahasiswa menyampaikan gagasan dalam organisasi, seorang pekerja melakukan negosiasi, atau seseorang berusaha menyelesaikan perbedaan pendapat dengan pasangannya.
Namun, kemampuan memengaruhi orang lain tidak semestinya dimaknai sebagai kemampuan mendominasi.
Justru, salah satu kunci komunikasi yang sehat adalah memberi ruang kepada orang lain untuk berbicara. Keinginan untuk didengar perlu berjalan beriringan dengan kesediaan untuk mendengarkan.
BACA JUGA:Dapur Rumah Warga di Bangsal Mojokerto Terbakar, Diduga Berasal Dari Pembakaran Sampah